Yuk, Ikut Dorong I Made Yasa Raih Penghargaan CNN
| CNN Heroes 2021 |
I Made Janur Yasa bukan pesohor. Namun, memasuki November 2021 ini namanya
viral di media sosial. Sebuah akun twitter twitter bernama @rebornblessing mengunggah foto Made Janur Yasa, disertai
ajakan untuk memberikan votes, agar dia terplih menjadi pemenang di ajang Top
10 CNN Heroes 2021. Made Janus Yasa ialah salah satu dan satu satunya warga
Indonesia, yang masuk ke deretan Top 10 nominees CNN Heroes tahun ini.
Pendukung Made, pria asal Tabanan, Bali, ini semakin banyak. Bagi mereka,
kemenangan I Made Janur Yasa itu penting. Bukan saja akan mengharumkan nama
Indonesia, dengan insiatif gerakan sosial warganya yang kreatif. Lebih dari
itu, kemenangannya diharapkan bisa menjadi modal bagi gerakannya memerangi
sampah plastik untuk terus bergulir, bahkan meluas ke daerah lain.
Predikat nominee itu diperoleh I Made Janur Yasa atas perannya dalam ‘’aksi
tukar plastik dengan beras”. Dengan
tajuk plastic exchange, ia bergerak bersama dengan komunitas peduli lingkungan yang ada di Tabanan. Gerakan
in tidak semudah yang diucapkan. Mengajak masyarakat mengurusi sampah tentu
tidak mudah. Bagi sebagian mereka sampah adalah urusan pemulung.
Namun, pandemi Covid-19 memberinya
momentum. Dunia pariwisata Bali menghadapi kesulitan besar karena arus kedatangan turis, baik asing maupun domestik,
merosot ke titik nadir. Ratusan ribu warga Bali kehilangan pekerjaan, dan sebagian
mereka pun kembali ke desanya. Menganggur. Made Janur Yasa juga terpukul.
Restoran vegannya pun sepi.
"Saya harus berpikir, di dalam tantangan ada peluang," katanya
ketika diwawancara CNN di akhir Oktober 2021. Sekitar Mei 2020, ia pun memulai program dimana penduduk desa setempat bisa menukarkan
sampah plastik dengan beras melalui sistem barter. Made Yasa menjalankan
aksinya itu sebagai aktivitas nirlaba.
Namun, sebelumnya ia harus sibuk mengedukasi kesana-kemari, bahwa ancaman
bagi pariwisata Bali bukan hanya pandemi. Sampah yang tak terurus juga
menjauhkan wisatawan. Membereskan sampah dan memanfaatkan plastik untuk daur
ulang adalah bagian dari melestarikan Bali sebagai destinasi wisata dunia.
Masyarakat mulai tergerak. Aksi menukar sampah dengan beras pun bisa digulirkan
dari kampung kelahirannya Desa Batuaji, Kecamatan Kerambitan, Tabanan.
Rupanya, gerakan itu cepat meluas. Dalam setahun, ada 250 desa yang
mengikuti gerakan Plastic Exchange itu. Sekali sebulan Kepala Banjar mengundang
warganya ke Banjar Adat, semacam Balai RW, menampung plastik warga dan
sekaligus membarternya dengan beras. Banjar (dusun) bersih dan warga pun
senang.
Guliran Plastic Exchange
Bali adalah destinasi pariwisata kelas dunia, dengan begitu banyak
destinasi wisatanya. Pelancong merasa dimanjakan begitu masuk Pulau Bali. Ada
pesona alam pantai, laut, gunung, sungai, sawah, dan utamanya adalah pesona
budayanya yang khas. Pesona budaya yang menempel pada taman-taman hotel dan
resort, warung, restauran cafe, hingga ke lobi-lobi hotel.
Belum lagi, yang mau shopping ada terhampar mal-mal, art shop, art gallery,
dan seterusnya. Bagi yang mau wisata kuliner, segala masakan tersedia, dengan
harga yang fleksibel, dan mudah dicari. Bali
adalah paket komplit. Pada tahun 2019, dari 16,1 juta wisatawan asing yang ke
Indonesia, 6,3 juta di antaranya dengan destinasi Bali. Di Pulau Bali sendiri,
porsi turin asing 40 persen, dan yang 60
persen lainnya adalah turis domestik.
Salah satu dampak membeludaknya industri pariwisata itu ialah lonjakan sampah.
Gubernur Bali I Wayan Koster menyebutkan, dalam kondisi pariwisata normal,
luapan sampah Bali bisa mencapai 4.280
ton perhari, baik dari sampah rumah
tangga, sampah perdagangan hingga ke industri wisata.
Dari jumlah itu, ada 829 ton sampah plastik per harinya, mulai dari kantung plastik, bekas bungkus kopi sasetan,
dan yang terbanyak adalah botol plastik. Secara keseluruhan, baru 48 persen
sampah yang bisa dikelola sampai ke tempat pembuangan akhir. Sisanya menumpuk
di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Di tengah situasi pandemi, sampah
semakin kurang terurus.
Di tengah krisis itu, bergulirlah inisiasi Plastic Exchange. Made Janur
Yasa menginisiasinya dari dusun kelahirannya di Banjar Jangkahan, Desa Batuaji, Tabahan. Ternyata
aksi ini mendapat sambutan dari masyarakat. Mula-mula mereka menukarkan plastik
yang ada di sekitar rumah, dan umumnya dalam bentuk botol PET ( Polyethylene
Terephthalate), plastik serba guna.
Dalam perjalanannya, seraya membersihkan lingkungan sekitar rumah masing-masing, mereka pun
memunguti plastik yang bisa didaur ulang, dan mengumpulkan sampah lain di
tempat pembuangan sementara. Lebih jauh lagi, rombongan pemuda terjun ke parit,
sungai-sungai, bahkan pantai, guna membersihkan lingkungan dan mendaur ulang
plastik.
Aksi di Desa Batuaji itu cepat meluas ke sejumlah desa lainnya. Ratusan ton
plastik dikirim ke Made Janur Yasa. Oleh kelompoknya, plastik itu dicacah dan
kemudian dijual ke pabrik pengolahan plastik daur ulang di Surabaya, karena di
Bali tak ada. Hasilnya, dibelikan beras ke petani padi di desa-desa tempat asal
plastik dikumpulkan. Berasnya dibagi pada warga sesuai jumlah yang dikumpulkan
oleh masing-masing. Ekonomi berputar.
Bukan saja warga mendapat manfaat dari nilai plastik daur ulang, lebih dari
itu lingkungan menjadi lebih bersih. Program Plastic Exchange itu bisa mempersatukan
pemuda ke dalam satu komunitas yang menamakan diri mereka Banjars. Pertukaran
dilakukan sekali sebulan, secara cash and carry agar manfaatnya dirasakan
langsung. Plastic exchange lebih menarik
katimbang model bank-bank sampah yang nilai manfaatnya tak langsung bisa dirasakan.
Tri Hita Kirana
I Made Janus Yasa menuturkan, yang membuatnya terus bersemangat adalah antusiasme warga untuk berpartisipasi.
Ia kerap melihat anak-anak remaja yang datang dengan ceria, para orangtua
sepuh, dan anak-anak kecil yang datang bersama ibu mereka. Semula, diakui Yasa,
para penduduk begitu tertekan oleh
pandemi yang membuat ekonomi keluarga babak belur. Inisiasinya memberi mereka
harapan.
Menurut Yasa, budaya Bali yang mementingkan koneksi manusia dengan alam dan
koneksi antara sesama manusia juga membantu Plastic Exchange itu lebih mudah dijalankan.
Memungut sampah plastik, dalam konteks budaya Bali, adalah bagian dari menjaga
hubungan manusia dengan alam.
Seperti umumnya warga Bali, Made Janur Yasa memegang teguh ajaran Tri Hita
Karana, yakni tiga jalan menuju kebahagiaan. Tri Hita Kirana, menurut atlet
beladiri Aikido itu, adalah falsafah hidup Hindu Bali yang terdiri dari tiga
urusan. Parahyangan: hubungan seimbang manusia dengan Tuhan; Pawongan:
hubungan harmonis manusia dengan manusia lainnya; dan Palemahan: hubungan
baik, harmonis dan saling menjaga antara manusia dengan lingkungan fisik di
sekitarnya.
Gerakannya Plastic Excgane pun dinarasikan sejalan dengan falsafah TriHita
Kirana. Membersihkan lingkungan banjar dari sampah plastik adalah kearifan
lokal. Warga tak ragu mendukungnya.
Gerakan Plastic Exchange itu rupanya terendus oleh tim seleksi CNN Heroes seri
ke-15 tahun 2021. Made Yasa pun lolos
dari tahap penyisihan berlapis hinga ia masuk ke jajaran 10 nominee. Dari 10
orang itu, tujuh dari Amerika Serikat dan hanya tiga orang dari luar AS,
termasuk Made Janur Yasa.
Pemilihan penghargaan CNN Hero 2021 dilakukan dengan sistem voting secara
global. Semua boleh ikut ambil bagian. Deadline votingnya tanggal 7 Desember,
dan penobatannya akan dilakukan pada tanggal 12 Desember 2021. Mungkin Anda juga
perlu berpartisipasi mendukung I Made Janur Yasa dengan aksi Plastic
Exchange-nya melalui https://edition.cnn.com/SPECIALS/cnn.heroes/vote/10/.
Penulis:Indy Keningar
Komentar
Posting Komentar