Wajah Dunia Pendidikan Tak Lagi Sama di Tangan Fajriyatun
Sumber foto: https://banjarnegarakab.go.id/main/2020/07/fajriyatun-guru-modern-penerima-satyalancana-pendidikan-dari-presiden/
When life gives you a question, just
google the damn thing--Anonymous.
Sedikit
banyak kutipan tersebut menyiratkan, bahwa setiap pertanyaan hari ini dapat
terjawab hanya dengan browsing. Itu
cara yang mudah sekaligus murah. Artinya, pengetahuan hari ini bukanlah hal
yang sukar didapat. Dengan beberapa kali menekan ponsel, setiap pertanyaan
niscaya akan menemukan jawaban.
Selain itu,
keterampilan pada hari ini juga dapat dipelajari secara otodidak. Youtube
menyediakannya secara visual. Channel-channel
bermutu mengenai, semisal belajar bergitar, melukis, menggambar, dan lain-lain
tersebar di sana. Bila kurang nyaman dengan visual, orang bisa menemukannya
dalam bentuk tulisan di blog atau web tertentu.
Akan tetapi,
tak setiap orang memiliki kesadaran tersebut. Teknologi atau sebut saja
internet, tak selalu difungsikan sebagai perangkat untuk belajar, atau mendidik
diri sendiri agar memiliki nilai lebih. Beberapa orang berlama-lama di media
sosial, sisanya ngegame hingga berjam-jam.
Saat di
suatu tempat tersedia free wifi,
orang berkerumun, tetapi tidak untuk bercakap-cakap, melainkan bermain game
bersama sepanjang siang hingga berakhirnya senja. Terutama anak-anak, ABG, dan anak muda, atau boleh dibilang,
orang-orang yang duduk di bangku-bangku SD, SLTP, dan SMU
Di sinilah
sebetulnya, peran seorang guru untuk meluruskan hal-hal yang sifatnya
buang-buang waktu. Seperempat hidup seseorang pada usia 6 hingga 18 dihabiskan
di sekolah. Seperempat lagi entah ke mana, sisanya tidur. Bahkan, bisa jadi
pada rentang usia tersebut, seseorang lebih sering bertemu gurunya ketimbang
orang tuanya.
, guru dalam
arti formal, di hadapan seseorang telah menjadi bagian yang berpengaruh dalam
hidup. Yang menjadi pertanyaan, pengaruh seperti apa yang akan diberikan
seorang guru kepada orang-orang, yang lebih dikenal dengan label: murid?
Kita tahu,
perkembangan zaman sedikit banyak memaksa masyarakat untuk berkembang. Beberapa
orang menanggapinya secara positif. Artinya, mereka mau berubah karena memang
telah saatnya berubah. Beberapa lagi tersendat-sendat, dan sisanya stagnan.
Golongan
yang terakhir akan berakhir menyedihkan karena zaman akan serta merta
meninggalkannya, membuatnya di hadapan lingkungan menjadi tidak relevan. Kita
dapat menemukannya pada diri lansia, dan adapula orang-orang paruh baya. Yang
menjadi persoalan, beberapa dari mereka menduduki posisi penting dalam dunia
pendidikan yaitu seorang guru.
Sepanjang
hari, dari hari ke hari, kegiatan belajar yang dipandu mereka masih saja
menggunakan metode lama: menghafal, melafalkan buku secara kencang di kelas,
menyalin sebuah catatan yang telah tercetak di buku; yang sebetulnya,
masing-masing murid telah memiliki buku itu. Cara-cara seperti ini tidak pernah
membuat wajah pendidikan menarik, entah dulu ataupun sekarang, tetapi
barangkali tetap ada seorang guru yang melanggengkannya. Murid-murid jenuh.
Pelajaran seperti apa yang dapat diterima oleh gerombolan anak-anak yang jenuh?
Semestinya
saat ini, guru-guru dapat mengembangkan metode belajar mengajarnya, mengikuti
perkembangan zaman. Selain itu, mereka diharapkan dapat memberikan doktrin
positif mengenai teknologi. Sehingga anak didiknya kreatif, inovatif,
memanfaatkan teknologi secara positif.
Itu telah
dilakukan oleh Fajriyatun, Guru IPS di SLTP 1 Purwanegara, Kabupaten
Banjarnegara. Perempuan kelahiran 20 Oktober 1974 ini telah merebut prestasi
pada dunia pendidikan. Pada November 2019, dia menerima penghargaan Tanda
Penghormatan Satyalancana Pendidikan dari Presiden, yang diserahkan oleh Nadiem
Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Melalui
karyanya: Stupa Merah Putih Bermagnet; suatu inovasi pembelajaran untuk melatih
kemampuan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills), Fajri menjuarai
lomba dalam bidang IPS dan Bahasa dalam Inovasi.
Ecka Pramita
Komentar
Posting Komentar