Sri Piwelas, Kader Paliatif yang Dampingi Pasien Kanker dengan Welas Asih
| Foto: youtube ibu kota |
Hari Kesehatan Nasional
Berjuang
menghadapai penyakit berat tidaklah mudah, para pasien harus berobat rutin dan
merasakan efek pengobatannya. Tak hanya pasien, keluarga yang mendampingi juga
harus menjaga semangat kesembuhan bersama. Di Pademangan, Jakarta Barat, Ibu
Sri Piwelas terketuk hatinya untuk menjadi keluarga yang melakukan perawatan
paliatif para pasien ini.
Melansir RS Carolus, perawatan paliatif adalah perawatan pada
seorang pasien dan keluarganya yang memiliki penyakit yang tidak dapat
disembuhkan dengan cara memaksimalkan kualitas hidup pasien serta mengurangi
gejala yang mengganggu, mengurangi nyeri dengan memperhatikan aspek psikologis
dan spiritual.
Selain sibuk sebagai ketua RT di wilayah Pademangan Barat,
Ibu Sri Piwelas juga sibuk mendampingi pasien kanker sebagai Kader Paliatif.
Hal tersebut telah beliau tekuni sejak tahun 2018. Perempuan
53 tahun ini turut aktif dalam membina, meliterasi, serta mengedukasi warga.
Bagi beliau, kebahagiaan adalah ketika bisa membantu dan melihat warganya
tersenyum.
“Saya ada
kegiatan pendampingan paliatif dan pendampingan kelompok usaha bersama. Saya
mendampingi pasien yang sakit berat, yaitu kanker. Sebenarnya saya sendiri punya
pengalaman mendampingi keluarga yang sakit. Lalu saya jadi tahu kalau pasien
banyak perhatian. Saya menanyakan keadaannya, pengobatannya, bagaimana
perasannya,” ungkap Sri melalu kanal YouTube Ibu Ibukota.
Selain kader
paliatif, Sri juga disibukkan dengan kegiatannya sebagai ketua RT yang sudah
dijalani sejak tahun 2005. Tak sampai di situ, Ibu Sri juga menjadi pendamping
Kelompok Usaha Bersama. Ibu Sri membimbing warga untuk mendirikan usaha
sendiri. Hingga saat ini, banyak warga yang dibimbingnya telah sukses dan
membuka lapangan kerja baru.
“Awal ceritanya
saya itu PKK RW. Terus habis PKK RW, saya sempat berhenti untuk mengurusi
suami, terus habis itu saya masuk lagi dan aktif menjadi ketua RT. Terus
dipanggil sama Pak RW harus mengikuti kegiatan PKK, otomatis tambah pekerjaan.
Lalu habis PKK di RW, disuruh masuk di kelurahan, ikut tes. Saya masuk di PKK
kelurahan. Di situ saya Pokja 4 bu, Pokja 4 kan mengurusi posyandu, nah di situ
saya harus aktif mengurusi penimbangan, 11 RW,” tuturnya.
Salah satu alasan
mengapa Sri memilih mendedikasikan hidupnya untuk orang sakit ialah karena
merasa dari kecil menjadi anak angkat dengan orang tua guru dan bidan, terbiasa
melihat mereka membantu warga.
“Paliatif itu
ketika saya memberi penjelasan atau arahan dukungan ke pasien kanker kalau yang
mau dengerin senang banget gitu. Kalau mau nurut kan akhirnya lebih baik.
Bukannya sembuh, kalau kanker kan nggak ada kata sembuh,” ujarnya.
Kemudian, atas
pengabdiannya sebagai kader paliatif, Sri mendapatkan sertifikatnya sejak tahun
2018. Peserta mengikuti pelatihan selama satu minggu dengan materi dan praktik,
bagaimana cara memandikan, mengelap, mendudukkan, hingga memijat.
“Saat ini jumlah
pasien yang saya damping dari tahun 2018 kalau dihitung ada 27 orang. Kadang
yang keluarga sudah nggak mau. Sekarang tinggal tiga pasien yang intens saya
damping. Sebetulnya banyak warga yang terkena kanker, cuma nggak mau ke dokter
terus nggak mau jujur,” lanjutnya.
Sri menceritakan
jika belum lama ada yang ke rumah ternyata sudah sampai stadium tiga.
"Stadium dininya kemana?", saya bilang gitu. Tidak kontrol karena
payudaranya sering bengkak dan baru diketahui sudah stadium tiga.
“Sekarang saya
dampingi, kemarin habis kemoterapi. Puji Tuhan katanya sudah tidak merah, saya
belum kelihat ke sana,” ungkapnya.
Melalui kisah
Sri, kita belajar tentang kepedulian dan welas asih pada orang lain di sekitar
kita. Semoga cerita Sri bisa menginspirasi kita semua untuk melakukan hal yang
sama di lingkungan tempat kita tinggal.
Ketahui Prosedur Perawatan Paliatif
Menurut situs Medline Plus,
prosedur yang dilakukan selama perawatan paliatif adalah:
1. Mengatasi gangguan
fisik, seperti nyeri, susah tidur, napas menjadi pendek,
tidak nafsu makan, dan merasa sakit pada perut. Guna mengatasinya, spesialis
akan melakukan konseling gizi, terapi fisik, serta memberikan teknik bagaimana
mengambil napas dalam-dalam agar tubuh menjadi lebih rileks.
2. Mengatasi gangguan
emosi dan sosial, seperti merasa takut, marah, sedih, emosi tidak terkontrol, dan
depresi. Begitupun dengan keluarga pasien yang juga merasakan hal yang sama.
Spesialis akan melakukan konseling, membuat diskusi antar-sesama pasien yang
memiliki riwayat penyakit yang sama, dan pertemuan keluarga.
3. Mengurangi masalah
finansial yang akan dihadapi karena pengeluaran untuk biaya pengobatan yang
cukup besar. Tim perawat harus menjelaskan seberapa besar biaya yang diperlukan
untuk pengobatan, sebelum pengobatan tersebut dilakukan sekaligus memberikan
konseling terkait keuangan.
4. Meringankan masalah spiritual
dengan menolong pasien untuk menemukan kedamaiannya, dan biasanya melibatkan
tokoh agama masing-masing yang dipercayainya.
Penulis: Ecka Pramita
Komentar
Posting Komentar