Menyulap Selokan Dekil Menjadi Taman Ikan
Komunitas Bendung Lepeng
Bendungan Micran
Umbulharjo tergolong ikon baru dalam daftar destinasi wisata Kota
Yogyakarta. Ujudnya hanya berupa sekumpulan kolam ikan, yang dipadu dengan saluran irigasi sepanjang 100
meter yang hanya berjarak 3 – 4 meter dari pintu rumah-rumah warga yang berderet memanjang. Serba bersih,
apik dan tertata. Ditambah pula dengan keramahan para warganya, “Selokan
Mrican” ini menjadi tempat kongkow yang murah tapi menyenangkan.
Warung kopi, es dan kudapan pun diusahakan sejumlah warga. Membenamkan kaki
ke air seraya memberi makan ikan dengan
pelet buatan pabrik menjadi prosesi yang hampir selalu dilakukan pengunjung. Selama 20 bulan dilanda
pandemi, situs Irigasi Micran ini tak pernah sepi pengunjung. Ada ruang yang
cukup lega bagi pengunjung untuk bermain-main seraya menjaga jarak. Memakai
masker wajib dilakukan.
Terletak di Kecamatan Umbulharjo, kawasan Timur Yogyakarta, Bendungan
Micran itu melintang pada Sungai Gajahwong. Bendungan itu dibangun pada zaman
kolonial sebagai saluran pengairan untuk Jogya Timur dan menjulur sampai Kabupaten
Bantul. Pada masa lalu, selokan air ini dipakai sebagai sarana irigasi
persawahan meski tak seberapa luas.
Dalam perjalanannya, seiring pertambahan penduduk, rumah-rumah berdiri di
sepanjang kiri dan kanan saluran irigasi tersebut. Semua menghadap ke arah
saluran irigasi, Dengan perawatan yang seadanya ditambah meruahnya sampah dari
Kali Gajahwong, kondisi irigasi itu pun semakin buruk. Kotor, dekil, berbau. Bukan hanya sampah rumah tangga,
saluran irigasi itu juga kebagian limbah pasar, limbah rumah tangga,
peternakan, bahkan rumah sakit.
Penduduk Mrican Giwangan yang bermukim di sepanjang mulut saluran irigasi
harus menanggung gangguan segala limbah itu. Warga setempat pun dulunya terbiasa membuang sampah di saluran
irigasi tersebut.
Pemerintah Koya Yogyakarta tak tinggal diam. Pada tahun 2015, sebuah taman
kecil dibangun tak jauh dari pintu air bendungan. Beberapa kolam digali dekat
saluran irigasi. Ada anyaman besi pada pintu air untuk menyaring sampah
mengalir ke saluran irigasi. Momentum itu dimanfaatkan warga Giwangan,
Kerulahan Mrican, untuk membangun
kesepakatan setingkat RT untuk tak membuang sampah ke dalam saluran irigasi.
Namun, ternyata dampaknya tidak cukup menendang. Anak-anak muda Kapung
Giwangan, Mrican, pun berembug untuk menangani pencemaran saluran irigasi itu
sampai tuntas. Di bawah bendera Komunitas Bendung Lepen (Kali), Karang
Taruna Mrican Youth pun terjun melakukan pembersihan selokan selebar 3 meter
itu sejadi-jadinya.
Mula-mula, dari mulut pintu air dipasang kawat penyaring sampah. Ada empat
pintu kawat yang dipasang di sepanjang 50 meter, dan ruang irigasi itu
dibersihkan dari sampah-sampah yang telah mengendap bersama lumpur. ‘’Kami
ingin membuat saluran air itu bersih dan bermanfaat untuk warga,’’ kata Andi
Nur Wijayanto, salah satu pegiat Komunitas Bendung Lepen itu, dalam sebuah
tayangan video di youtube.
Aksi pembersihan itu dilakukan sejak awal 2019 lalu. Secara bergiliran
anak-anak muda itu terjung ke selokan
dan membenahi lingkungan kumuh itu. Hasilnnya, taman di mulut pintu irigasi itu
lebih bersih dan menarik. Sejumlah mural yang indah dan lucu khas Jogya
menghiasi sejumlah dinding. Pohon-pohon peneduh dipangkas, perdu ditata, rumput
liar dicabut dan paving block dicat warna warni. Semua ikut gotong royong,
tanpa berhitung siapa yang akan meraih
untung.
Ke dalam kolam dan saluran irigasi yang bersih itu dilepas ribuan bibit
ikan mas, ikan gurame, nilai, tombro, disamping ada bibit wader, lele, udang
kali, dan ikan patin yang masuk dari Sungai. Warga secara sukarela membongkar
bagian rumah yang menjorong ke selokan tersebut.
Adaptasi warga berlanjut. Air limbah rumah tangga dialirkan ke arah
belakang rumah, masuk ke got, disaring dibak kontrol, baru dibuang ke Sungai Gajahwong. Limbah
toilet masuk ke septik tank, dan tak ada lagi yang dibuang ke got.
Gebrakan ini mengundang perhatian warga Umbulharjo dan sekitarnya. Mereka
mulai melongok ke Lembah Gajahwong itu, berselfie dan ramai-ramai memajangnya di laman medsosnya. Viral. Dalam
waktu singkat, Kampung Irigrasi Mrican ini dikenal secara luas. Semakin banyak
orang datang.
Komunitas Bendung Lepen melanjutkan kerjanya. Selokan itu dibersihkan
secara masif. Lumpur dan sampah di
dalamnya diangkat, dimasukkan ke karung-karung, dan atas bantuan Dinas
Kebersihan, limbah itu dibuang ke tempat pembuangan sampah. Ruas irigasi yang
dibersihkan pun bertambah menjadi lebih dari 100 meter panjangnya.
Lahan-lahan kosong, yang sempit sekalipun, dimanfaatkan menjadi taman,dengan
warung-warung kopi di sejumlah titik.
Akses jalan pada salah satu
tepian saluran irigasi diberi paving
block warna warni. Tanggul irigasi disemen dengan penguatan batu kali. Tinggi
muka air irigasi yang semula 40 cm menjadi satu meter dengan dasar pasir dan
kerikil. Ribuan ikan warna-warni ada di dalamnya.
Memasuki pertengah 2019, Kampung Irigasi Mrican itu telah menjadi destinasi
wisata warga Jogya, bahkan banyak yang dari luar kota. Panen ikannya dilakukan
empat atau lima bulan sekali, dan bisa menghasilkan 9-10 ton ikan, berbagai
jenis.
Sebagian besar ikan dijual dan
hasilnya untuk kas kesejahteraan warga. Pada akhir pekan, banyak pengunjung
datang. Sebagian mereka mengajak anak-anak. Kampung Irigasi Mrican itu bukan
saja tempat wisata atu hang-out, pun menjadi tujuan orang tua mengajak
anak-anak bermain. Gratis.
Tak sampai di situ. Bila permukaan air cukup tinggi, genangan air Bendungan Mrican itu bisa juga dimanfaatkan
untuk wisata air. Ada beberapa unit perahu wisata yang menyusuri Kali Gajahwong
seratus meter ke hulu lalu menghilir lagi. Ongkosnya Rp. 5 ribu per orang.
Untuk menikmati suasana bermain dengan ikan-ikan, pengunjung bisa membeli
pelet ikan seharga Rp. 2 ribu sampai Rp. 5 ribu untuk melhat ikan-ikan
berkerumun adu cepat berebut makanan. Tak ada kegiatan yang komersial. Komunitas
Bendung Lepen hanya mengutip biaya
pemeliharaan dan operasional kegiatan dari margin harga pelet, tambang perahu
serta penjualan ikan.
Aktivitas di Lembang Gajahwong itu lebih banyak didorong pada semangat
untuk memanfaatkan sepenggal sumberdaya alam bagi warga kampung yang mau
membuka warung kopi dan jajanan.
Di tengah pandemi
Covid-19, dilakukan pembatasan pengunjung Bendung Lepen. Jam operasional yang
dulunya jam 06
pagi sampai jam 10 malam dipersingkat sehingga jam 19 sudah tak menerima
pengunjung. Di situ juga disediakan
sarana untuk memenuhi syarat prokes, seperti tempat
cuci di sepanjang tepian selokan.
Menjelang memasuki tahun keempat, Destinasi Selokan Micran itu masih
menunjukkan kekuatan sebagai situs yang
layak ditengok. Banyak Komunitas Gowes
yang secara reguler menjadikannya tempat persinggahan. Sejumlah mahasiswa juga
menemukan tempat hang out yang murah, dan bebas dari hiruk pikuk lalu lintas
kota Yogyakarta. Ragam kopi dan jajanan yang tersedia semakin komplit.
Komunitas Bendung Lepen pun tak lelah merawat situs wisata rakyat itu. Semua anggota diberikan tugas sesuai dengan bidangnya, seperti
pengelolaan ikan dan infrastruktur. Setiap harinya setelah Bendung Lepen sudah
tutup, akan ada warga dan para anggota organisasi yang melaksanakan tugas
bersih-bersih seperti menyapu dan membuang sampah.
Pembersihan selokan irigasi dilakukan
setiap kali usai panen. Dilakukan pengerukan bagian bawah air untuk mencegah
penumpukan lumpur. Kualitas airnya
masih terjaga. Kondisi sekitar bendungan juga lebih bersih dan asri.
Belakangan,warga di sisi hilir selokan juga tak mau kalah. Mereka ingin selokan
yang melintas di kampungnya besih, sekalipun tak harus menjadi destinasi
wisata.
Indy Keningar
Komentar
Posting Komentar