Inspirasi Ai Nurhidayat Tak Lelah Sampaikan Pentingnya Toleransi
| Foto: Instagram/Ai Nurhidayat |
Tanggal 16
November selalu diperingati sebagai Hari Toleransi Internasional. Hari tersebut
dideklarasikan oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural
Organization (UNESCO) dalam konferensi UN General Assembly di Paris, Prancis
pada 1996 lalu. Pembentukan Hari Toleransi Internasional didasari atas
permasalahan yang terjadi pada manusia, mulai dari ketidakadilan, kekerasan,
diskriminasi, dan marjinalisasi.
Hari Toleransi Internasional juga diciptakan untuk membuat kesadaran masyarakat
akan pentingnya toleransi. Hari spesial itu diharapkan dapat membuat masyarakat
menghargai budaya, kepercayaan, dan tradisi lain dan memahami risiko dari
intoleransi. Hari Toleransi Internasional juga menandai ulang tahun Mahatma
Gandhi yang dihadiahi penghargaan oleh UNESCO dalam mempromosikan toleransi dan
tindakan non-kekerasan.
PBB dalam laman resminya menambahkan bahwa pentingnya deklarasi Hari Toleransi
Internasional agar toleransi tidak hanya sebagai tindakan moral saja, melainkan
juga kebutuhan politik dan legal bagi suatu individu, grup, ataupun negara.
Mereka juga menekankan bahwa suatu negara harus memiliki legislasi baru yang
memastikan perlakuan dan kesempatan yang setara untuk semua kelompok dan
individu di masyarakat.
PBB menambahkan bahwa pendidikan untuk toleransi pun dibutuhkan. Pendidikan
tersebut ditujukan untuk mengatasi berbagai ketakutan dan pengecualian pada
individu atau kelompok. Sehingga anak-anak muda bisa mempunyai kemampuan dalam
penilaian yang mandiri, berpikir kritis, dan alasan yang etis dalam menghadapi
suatu masalah. Apalagi mengingat di seluruh dunia ada berbagai macam agama,
bahasa, budaya, dan etnis yang sebenarnya bisa memperkaya dunia.
Indonesia menjadi salah satu negara dengan keberagaman agama, bahasa, budaya,
dan etnis, bahkan tingkat keanekaragamannya sangatlah kompleks hingga
masyarakat Indonesia disebut sebagai masyarakat multikulturalisme. Dilansir
dari laman Binus, multikultural sendiri memiliki makna yang sangat luas dan
membutuhkan pemahaman yang mendalam untuk mengerti apa itu masyarakat
multikultural.
Masyarakat multikultural secara sederhana adalah sekelompok manusia yang
tinggal dan hidup menetap di suatu tempat yang memiliki kebudayaan dan ciri
khas tersendiri yang mampu membedakan dengan satu masyarakat dengan masyarakat
yang lain. Setiap masyarakat menghasilkan kebudayaannya masing-masing yang
menjadi ciri khas bagi masyarakat tersebut.
Multikulturalisme di Indonesia tercipta akibat kondisi sosio-kultural ataupun
geografis yang begitu beragam dan luas. Mengingat dalam urusan hal geografis,
Indonesia memiliki banyak pulau di mana setiap pulau dihuni oleh sekelompok
manusia yang membentuk suatu masyarakat. Dari masyarakat itulah kemudian terbentuk
sebuah kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri sehingga tidak heran kalau
Indonesia memiliki berbagai macam kebudayaan.
Faktor lainnya dipengaruhi oleh sejarah, di mana Indonesia sebagai negeri yang
kaya dan subur menjadi incaran bangsa lain. Sejak tahun 1600-an, Indonesia
dikunjungi oleh bangsa-bangsa lain seperti Portugis, Belanda, Inggris, China,
India, dan Arab. Mereka tinggal dan menetap dalam jangka waktu lama, menjalin
hubungan kerjasama, melakukan perdagangan, politik, hingga pernikahan. Kondisi
ini membuat Indonesia memiliki struktur ras dan budaya yang semakin beragam.
Intoleransi di masyarakat
Sayangnya, dengan kondisi bangsa yang memiliki ribuan adat-istiadat yang
menyebar dari ujung Barat hingga ke ujung Timur, banyak konflik yang mengancam
kesatuan Indonesia. Konflik yang terjadi tidak hanya dipengaruhi oleh sosial
dan ekonomi, melainkan budaya. Sehingga tidak jarang, multikulturalisme
dijadikan alasan untuk saling membenci satu sama lain.
Diperkirakan ini terjadi karena masih adanya dominasi suatu kelompok atas
kelompok lainnya, di mana Indonesia terdapat suku dan agama mayoritas dan
minoritas. Dengan jumlah kelompok mayoritas yang banyak, mereka memiliki kuasa
untuk mengontrol struktur sosial yang ada sehingga lebih menguntungkan pihak
yang mendominasi. Akibatnya, tidak jarang kelompok minoritas tersingkirkan,
menjadi korban yang bahkan tidak jarang berujung mendapatkan tindak kekerasan.
Dengan situasi seperti ini, mau tidak mau perlu diterapkan pendidikan
multikultural. Pendidikan multikultural merupakan suatu keharusan dan bukan
lagi menjadi pilihan. Hal ini bertujuan untuk mengelola keanekaragaman dan
segala potensi positif dan negatif yang dilakukan sehingga perbedaan bukanlah
suatu ancaman atau masalah. Perbedaan menjadi sumber positif untuk perkembangan
dan kebaikan bersama.
Salah satu caranya adalah melalui pendidikan. Pendidikan bisa dilakukan untuk
menumbuhkan semangat persatuan di balik keanekaragaman budaya yang ada di
Indonesia. Pendidikan multikultural sendiri bertujuan untuk mempersiapkan
masyarakat dengan sejumlah pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan
dalam lingkungan budaya etnik, budaya nasional, ataupun antar budaya etnik
lainnya. Sebab, Indonesia sendiri merupakan negara multikultural yang dihuni
oleh lebih dari ratusan suku bangsa.
Sosok
di balik kelas multikultural
Kemudian hadirlah Ai Nurhidayat, sosok pemuda asal Pangandaran Jawa Barat.
Awalnya, ia mendirikan komunitas literasi di kampung halamannya itu yakni
Komunitas Belajar Sabalad. Di komunitas itu, mereka berkumpul dan mengobrol
santai sambil berdiskusi. Dilansir dari Yoursay, diskusi tersebut menghasilkan
sebuah motto 'Mencari ilmu selama-lamanya, mencari kawan sebanyak-banyaknya'.
Ai rutin mengadakan program literasi di komunitasnya. Tidak hanya itu saja,
lulusan Universitas Paramadina ini juga kerap mengajak anggota komunitasnya
untuk melakukan sejumlah kegiatan produktif lain. Seperti berkebun, beternak,
memproduksi pupuk kandang, pakan domba, sampai madu murni. Di 2012, Ai
mendirikan sebuah sekolah bernama SMK Bakti Karya Parigi. Saat pertama kali
baru dibuka, sekolah ini memiliki sedikit murid sampai hampir bangkrut. Ai pun
memutar otak dan berdiskusi dengan anggota komunitasnya. Mereka kemudian
mendapatkan ide bagaimana bisa memperoleh murid baru.
Ia memutuskan Komunitas Sabalad menjadi bagian dari SMK-nya, dengan begitu
muridnya pun bertambah jumlahnya. Tinggal di Dusun Cikubang, Desa Cintakarya,
Pangandaran, Ai perlahan mulai merasakan dan melihat langsung budaya
etnosentrisme yang terjadi di masyarakat sekitar. Ia menyadari bahwa masih
banyak orang yang saling berselisih pendapat, mencaci maki, hingga bertengkar
akibat perbedaan.
Dari sana muncullah sebuah gagasan untuk mendatangkan murid dari luar daerah
agar bisa memberikan pemahaman pada masyarakat tentang perbedaan. Awalnya,
masyarakat tidak setuju adanya murid dari luar daerah, apalagi mereka yang
memeluk agama yang berbeda dengan mayoritas. Ai merasa hal ini terjadi karena
minimnya pengetahuan masyarakat soal multikultural dan toleransi.
Tantangan pun mulai bermunculan ketika kelas multikultural didirikan. Ada
berbagai tuduhan ditujukan pada Ai di SMK Bakti Karya Parigi, mulai dari isu
adanya pembangunan gereja sampai pindah agama. Ai bahkan sempat disidang oleh
jajaran pemerintah, Kementerian Agama, MUI dan tokoh masyarakat di Kantor
Bupati Pangandaran. Ia disidang dengan isu intoleran.
Ai menjelaskan hal yang terjadi sebenarnya, namun ia diminta untuk tidak
menambah murid dari luar daerah, khususnya mereka yang non-muslim. Tidak
berjuang sendirian, Ai mendapatkan belaan dari kepala desa yang mengatakan
bahwa semua tuduhan tersebut tidak benar. Merasa ada yang mendukungnya, ia
tidak pantang mundur. Ia terus mendatangkan siswa baru dari luar daerah sampai
isu tersebut kembali muncul.
Berkali-kali ia menjelaskan tujuan pendirian kelas multikultural ini sampai
akhirnya pihak pemerintah kemudian memberikan dukungan. Atas perjuangannya, SMK
Bakti Karya Parigi pun memiliki kelas multikultural. Ai dengan bangga bisa
membawa murid-muridnya dari pelosok daerah untuk bersekolah di tempatnya sambil
mengajarkan mengenai pentingnya toleransi.
Komentar
Posting Komentar