E-Trash, Mengubah Sampah Jadi Rupiah
JAKARTA
– Suasana siang tidak seperti biasanya, awan mendung menyelimuti langit Surabaya. Pertanda bahwa musim penghujan sudah
tiba. Jelegar…. Benar saja, baru melangkah beberapa meter dari rumah, tiga
sekawan Intan Mey Setyaningrum (Teknik
Fisika), Latifatul Fajriyah (Teknik Fisika), dan Fadhila Rosyidatul ‘Arifah
(Teknik Material dan Metalurgi) yang
merupakan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini
sudah disuguhkan langit yang ‘muram’. Kilatan petir mulai bermunculan dan hujan
turun membasahi apapun yang ada di bawahnya tanpa pandang bulu.
Salah
satu masalah yang timbul di musim penghujan, adalah banjir. Satu fenomena yang
sepertinya tak kunjung usai. Banjir menjadi seperti ‘musim’ yang datang
berbarengan dengan musim penghujan. Siapa biang keroknya? Yups.. sampah. Sampah
menjadi salah satu faktor utama penyebab banjir. Ditambah lagi, pandemi Covid-19 yang sudah
mewabah selama hampir dua tahun ini rupanya tak hanya berdampak pada ketidakstabilan
perekonomian masyarakat, tetapi juga masalah sampah yang lambat laun semakin
meningkat.
Dinakhodai
Fadhila Rosyidatul ‘Arifah, Srikandi ITS ini mencetuskan sebuah
aplikasi berbasis web bernama E-Trash. Ketiga
mahasiswa yang tergabung dalam Tim Juara tersebut berusaha mengurai masalah
sampah dengan teknologi kekinian. Ya, kalua biasanya platform jual beli produk
kebutuhan sehari hari. E-Trash justru hadir
menjadi sebuah platform jual beli sampah dan produk recycle
yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus membantu
mengurangi jumlah sampah. Keren banget bukan!
Seperti danamnay, E-Trash diambil dari kata “trash” yang berarti
sampah. Mulanya, ide mengenai E-Trash muncul dengan tujuan agar masyarakat
dapat dengan mudah menukarkan sampah anorganik atau barang bekas dengan koin
yang bisa dikonversikan ke uang tunai. Secara tak langsung dapat membantu
perekonomian masyarakat. Mulia sekali….
Nah… untuk menggunakan platform ini, pengguna tidak perlu
mengunduh di Playstore, melainkan bisa diakses melalui https://www.etrashidn.com. Selanjutnya, pengguna perlu mendaftarkan akun dengan email dan login
terlebih dahulu. Hebatnya lagi nih, dalam platform ini, pengguna juga
diberi kesempatan untuk bertindak sebagai pembeli sekaligus penjual.
Pengguna dapat menjual atau
membeli barang dengan enam kategori. Yakni, botol plastik, elektronik bekas,
botol kaca, kardus, buku dan koran bekas, serta kayu dan bambu. Pengguna hanya
perlu menyertakan alamat dan foto sampah yang akan dijual. Selanjutnya, pihak
E-Trash akan menghampiri lokasi dan memberikan sejumlah uang kepada penjual.
Dalam hal ini, jika barang dari
penjual memiliki nominal rupiah yang kecil maka pihak E-Trash tidak bisa melakukan
penjemputan. Di platform ini, penjual dapat mengunggah gambar produk, nama produk, deskripsi
produk, hingga jumlah stoknya sendiri. Penjual juga akan mendapatkan uang usai
pesanan terselesaikan dan nominalnya akan terpotong sebesar 5 persen dari hasil
penjualan produk.
Selain menjadi penjual, pengguna
juga dapat membeli sampah dan mengetahui detail dari barang yang akan
dibelinya. Pembeli dari luar kota pun tidak perlu khawatir karena E-Trash sudah
menyediakan sistem rekening bersama. “Artinya, uang pembeli baru akan
diteruskan ke penjual usai barang sampai dengan kondisi baik, sehingga tidak
akan ada penipuan,” tambahnya.
Terus fitur apa yang
menarik dari aplikasi ini?. Pasti ada dong, di antaranya
adalah fitur home untuk
mencari produk, fitur keranjang untuk mengetahui produk yang ingin dibeli,
fitur cash flow
untuk mengetahui riwayat keuangan yang telah dilakukan, serta fitur notifikasi
untuk menerima pesan dan riwayat transaksi yang telah dilakukan. Perlu
diketahui nih teman-teman, ide Tim Juara ini telah berhasil memperoleh
pendanaan dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di kategori PKM
Kewirausahaan dan berhasil menyabet 2nd
Runner Up dalam Podium
Business Plan Competition 2021.
Oleh : Maulana Yusuf
Sumber:
https://www.its.ac.id/news/2021/07/26/atasi-sampah-di-tengah-pandemi-mahasiswa-its-rancang-e-trash/
Komentar
Posting Komentar