Bermula dari Geregetan, Ayi Asmita Ajak Warga jadikan Sampah Tanggung Jawab Bersama
Sumber
foto: Kanal YouTube Ibu Ibukota
Lingkungan tempat kita tinggal merupakan
cerminan bagaimana kita hidup dan peduli akan kesehatan. Bagi Ayi Asmita, menjaga lingkungan harus dimulai dari diri
sendiri, lalu bergerak bersama agar dampaknya luar biasa.
Bagaimana usaha Ayi Asmita menggerakkan
warga? Lalu, seperti apa suka duka Ayi sebagai penggerak literasi di bidang
pemberdayaan lingkungan? Simak ulasannya berikut ini.
Ayi Sasmita tanpa lelah mengedukasi warga
tentang kebiasaan memperlakukan sampah, salah satunya dengan mendirikan bank
sampah dan membuat slogan SAMTAMA yang kepanjangannya adalah Sampah Tanggung
Jawab Bersama.
Dimulai dari rasa geregetan terkait masalah
sampah di lingkungan tinggalnya, Ayi Asmita tergerak berbuat aksi hidup baik.
Terlebih, saat itu Ibu Ayi berperan sebagai ketua RW di kawasan Rawasari,
Jakarta Pusat tahun 2017.
Ayi sadar, mengubah lingkungan tidak bisa
dilakukan sendiri. Ia melibatkan dan menggerakkan seluruh elemen di wilayah
tersebut untuk mengatasi permasalahan sampah, yang ternyata didukung penuh oleh
sang suami.
Langkah yang dilakukan Ayi, antara lain
dengan mengurangi sampah organik dengan cara mengumpulkan setiap hari,
memberdayakan magot (binatang kecil), memanfaatkan sampah untuk daur ulang,
mengajak warga budidaya lele di dalam ember, dan mengaktifkan pertanian kota
yang hasilnya bisa untuk dimanfaatkan sendiri atau dijual.
"Berawal dari tahun 2017, saya melihat
tumpukan sampah di jalan Perpustakaan Negara V, dari situ saya menerapkan
sampah pilah, yaitu dengan pengurangan sampah organik dengan magot dan bank
sampah," kata Ayi seperti yang dikutip dari Kanal YouTube Ibu Ibukota.
Sebelum menikmati hasilnya saat ini, Ayi
menggambarkan alur pengambilan sampah di wilayahnya dimuali dari setiap hari
tenaga kebersihan yang berjumlah empat orang berkeliling ke seluruh wilayah
mengambil semua sampah dan akhirnya menumpuk. Rata-rata perhari bisa sampai 20
gerobak. Lalu, ketika Ayi sudah belajar cara memilah sampah, semua program di
atas sudah bisa dilakukan dengan lancar, jumlah sampah yang dikirim ke bantar
gebang sudah sangat berkurang jauh di bawahnya.
Berbicara kendala dan tantangan dalam
melakukan gerakan tersebut pasti ada, tetapi Ayi yakin dengan niat dirinya bisa
mewujudkan keinginan yang lebih baik lagi. Contohnya adalah ketika mengajarkan
kepada warga dan memberi edukasi.
"Yah namanya juga bergerak pasti ada
yang tidak senang, mereka ada yang berpikir saya ini cerewet, ngapain sih
ngurusin soal sampah," seloroh Ayi.
Meskipun tidak mudah untuk mengajak
masyarakat agar tertib membuang sampah, tetapi Ai pantang menyerah. Saat
menjadi ibu RT, Ayi cukup didengarkan oleh warganya, apalagi ketika kemudian ia
dipilih sebagai ketua RW tahun 2017, ia bisa membujuk warganya agar tertib
membuang sampah.
Usaha yang dilakukan untuk memberi edukasi
dimulai dari mensosialisasikan door to door ke rumah warga, lalu memberi contoh
dengan memumungut sampah dan menyapu sampah di jalan. Memang, diakui Ayi, pada
awal pembentukan program tersebut terasa berat karena warga bingung bagaimana
memilah sampah. Akhirnya Ayi dibantu RT membuat tutorial bagaimana memilah
sampah.
Uniknya, Ayi juga melakukan koordinasi dengan
ketua RT kalau ada yang meminta tanda tangan minta tolong ditanya dulu apakah
sudah melakukan kerja bakti, ikut sampah pilah, dan ada penghijauan di rumah.
"Bukan bermaksud menghambat, tetapi hal itu menjadi salah satu cara efektif
untuk mengedukasi warga, yang efeknya ternyata bikin warga juga semakin tertarik."
ucapnya.
Selama melakukan gerakan perbaikan
lingkungan, Ai mengakui punya pengalaman yang tidak terlupakan. "Waktu itu
saya sedang berjalan mau kondangan ketemu orang di jalan mengendarai motor
sambil membawa sampah dan membuangnya sembarangan, lalu saya langsung lepas
sepatu dan saya kejar," ungkapnya.
Melalui cerita Ayi, kita jadi tahu betapa
pentingnya edukasi dan konsistensi dalam mengajak orang bergerak menjaga
lingkungan dan menggerakkan hidup sehat bebas sampah. Kita juga bisa mengikuti
langkah Ayi dimulai dari diri kita sendiri.
Penulis: Ericka Pramita
Komentar
Posting Komentar