Bermain Gembira di Alam Tebuka Kampung Lali Gadget
Pendidikan Anak
Melangkah mundur tiga dekade lalu, permainan
anak-anak identik dengan kegiatan luar ruangan. Di tahun 1990-an, di sore hari
jalan-jalan di area permukiman ramai oleh anak-anak usia 5 – 10
tahun yang asyik bersepeda. Sementara, di lapangan terbuka,
anak-anak yang sibuk main bola kaki, petak umpet, atau ular naga.
Setidaknya dalam satu dekade belakangan, anak-anak
tidak bisa jauh-jauh dari
gadget HP.
Anak-anak lebih suka bermain game online atau konsol, browsing media sosial, atau menonton video dari kanal Youtube sambil
tidur-tiduran. Mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam di depan screen.
Teknologi membawa berkah sekaligus dampak buruk. Perkembangan kecanggihan gadget meningkat pesat, dan seiring dengan
itu, meningkat juga jumlah pengguna gadget usia dini. Menurut penelitian dari
Common Sense Media, sebuah NGO dari
Los Angeles, penggunaan gadget pada anak-anak telah meningkat dari 38%
persen pada tahun
2011 menjadi 72% di tahun 2013 di
Amerika. Saat
ini, sudah mendekati 100 persen, dengan durasi pemakaian yang semakin panjang.
Menurut penelitian Henry J. Kaiser Foundation, NGO dari San Fransisco,
Amerika Serikat, anak-anak kini bisa menghabiskan
waktu 5 sampai 7 jam di depan gadgetnya.
Bahkan, banyak di antara mereka yang dibelikan gadget oleh
orangtuanya sebelum mereka bisa berjalan. Mereka lebih dulu mengerti cara mengoperasikan gadget sebelum belajar
keterampilan sehari-hari seperti mengikat tali sepatu.
Penggunaan gadget berlebihan jelas membawa dampak buruk. Dari segi
kecakapan, penggunaan gadget yang tak terkontrol bisa mengakibatkan gangguan konsentrasi,
keterlambatan kemampuan kognitif, dan mendorong sikap impulsif. Dari segi
kesehatan, kurangnya kegiatan luar ruangan bisa mengakibatkan minimnya asupan sinar
matahari yang mengakibatkan defisiensi vitamin D.
Kurang kegiatan fisik akibat keranjingan main game di gadget juga
dapat mengakibatkan
gangguan sistem imun, meningkatkan
resiko obesitas, gangguan tidur, serta ancaman kerusakan penglihatan. Dari segi
keterampilan sosial, anak-anak yang terlalu sering main gadget cenderung kurang pandai bersosialisasi di
dunia nyata,
sehingga kemampuan mereka berkomunikasi dan menjalin
hubungan antarpersonal menjadi terhambat.
Para orang tua dan komunitas lingkungan perlu waspada dan bisa mengambil langkah pencegahan agar anak-anak
mereka bisa melek teknologi, tapi tak
menjadi korban gadget. Para orang tua perlu membatasi durasi anak-anak mereka dalam penggunaan gadget, terutama yang di
luar keperluan sekolah. Di banyak negara, gerakan sosial memangkas waktu
penggunaan gadget terus dilakukan. Jatahnya satu jam per hari. Bahkan, di Tiongkok
secara resmi pemerintah membatasi penggunaan gadget untuk segala macam game dan
hiburan dibatasi satu jam sehari. Tidak lebih.
Gerakan Lali Gadget
Tingginya konsumsi waktu untuk gadget di kalangan anak-anak itu tidak hanya
terjadi di perkotaan. Gejala serupa juga melanda anak-anak di kota kecil dan
wilayah pedesaan. Situasi ini mengundang keprihatinan Ahmad Irfandi dan Nicho Priambodo, dua pemuda dari
Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka bertekad mengajak anak-anak
punya kegiatan di luar rumah dan mengurangi pemakaian gadgetnya.
‘’Kami prihatin sering melihat anak-anak nongkrong berjam-jam dekat warung
kopi numpang akses wifi untuk memainkan gawainya,’’ ujar Ahmad Irfandi, pemuda
28 tahun, yang magister bahasa dari Universitas Negeri Surabaya itu. Yang
membuatnya lebih masygul, para orang tua tak mencemaskan situasi itu. Mereka
menganggap sepele anak-anaknya keranjingan main game online.
Ahmad dan Nicho pun menggagas kegiatan alternatif yang bersifat permainan
dan outdoor. Mereka berniat menjadi pendamping dan fasilitator bagi anak-anak
untuk mengenal dan menikmati sensasi dolanan, istilah Jawa yang merujuk pada permainan-permainan kolektif
secara outdoor. Jika sekali dua mereka
memainkan aksi dolanan itu, dan telah
saling mengenal satu sama lain, mereka dapat melakukannya bersama-sama di
tempat masing-masing, seraya mengurangi pemakaian gadget.
Namun, gagasan itu perlu dukungan sarana, prasarana, dan terutama
partisipasi sosial warga. Dusun Bendet yang berada di wilayah Desa Pagergumbuk
direncanakan sebagai ajang bagi anak-anak, yang akan datang dari berbagai
tempat, untuk belajar memainkan berbagai game outdoor tradisional, dan warga
Dusun Bendet menjadi tuan rumahnya.
Achmat Irfandi dan teman-teman pun menggalang dukungan terutama dari warga,
Ketua RT, kepala dusun, dan Kepala Desa Pagergumbuk, Wonoayu Sidoarjo. Berhasil.
Perangkat desa, dusun, dan para tokoh desa mendukung gagasan itu. Bahkan,
kegiatan ini boleh memanfaatkan tanah milik desa yang berukuran 45 x 50 meter
persegi.
Tanpa membuang waktu, gerakan Kampung Lali (dalam bahasa Jawa artinya lupa)
Gadget digulirkan. Sebagai wadahnya dibentuk Yayasan Kampung Lali Gadget pada
tahun 2018. Ahmad Irfandi menjadi ketua yayasan. Sebagai langkah permulaan,
berbagai paket permainan diperkenalkan kepada
anak-anak Dusun Bendet dulu yang nantinya akan menjadi mitra bermain
bagi anak-anak luar yang ingin belajar menikmati permainan luar rumah di dusun
mereka. Warga dusun diberdayakan membuat
alat-alat permainan yang bisa dijual di arena.
Yayasan Kampung
Lali Gadget yang berpijak di Dusun Bendet, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo. Untuk melaksanakan kegiatan itu, Yayasan Lali
Gadget bekerja sama dengan Komunitas Wonoayu Kreatif. Konsep dolanan yang outdoor, melakukan aktivitas
fisik dan dilakukan secara berkelompok, sangat dikedepankan.
Kampung Lali
Gadget mulai mengadakan
berbagai kegiatan anak-anak. Sore
hari, para relawan turun mengajak anak-anak setempat belajar menikmati permainan tradisional
seperti lompat tali, egrang, ketapel, congklak, main kasti, gerobak sodor, cublek-cublek suweng,
dan sejenisnya. Setelah semua siap,
arena permainan itu mulai membuka diri untuk warga dari luar dusun. Semuanya
gratis.
Tidak mudah mengajak anak-anak ke arena bermain itu. Ahmad Irfandi dan
teman-temannya harus mendatangi rumah warga, pengurus RT/RW, dan tokoh
masyarakat, untuk memperkenalkan arena bermain anak-anak itu. Program. Mereka
menyambangi sejumlah taman kanak-kanak
(TK) untuk mensosialisasikan acaranya.
Setelah semuanya siap, acara perdana pun digelar. Ada 80 anak hadir, di
luar anak-anak dari Dusun Bendet yang bertindak selaku tuan rumah. Yayasan
Kampung Lali Gadget menyuguhkan bubur khas
tradisional Jawa Timuran untuk
mengingatkan kembali pada tradisi yang ada di masyarakat. Acara itu berjalan
lancar dan mendapat respon antusias masyarakat.
Ahmad Irfan dan kawan-kawan makin bersemangat untuk membuat acara yang
lebih berkelanjutan. Setidaknya seminggu sekali, setiap hari Minggu program
permainan luar ruangan itu digelar. Kadang berlangsung Sabtu dan Minggu. Pada
akhir 2018, peserta yang ikut kegiatan ini mencapai 470 anak. Sebagian mereka
bahkan datang dari Kota Surabaya.
Acara yang digelas makin bervariasi.
Pada hari tertentu digelar pula kegiatan di arena pojok literasi, yakni pendopo balai desa. Di
situ anak-anak
bisa membaca buku, merangkai puzzle Pancasila, serta diajak mengenal keragaman budaya Nusantara.
Sekali waktu, ada juga sarana unjuk kreativitas yang menampilkan bakat dari dalang
cilik Ki
Erwan Putra Herdiyanto.
Di depan anak-anak, dalang cilik itu mendongeng, menirukan berbagai suara, menyanyi, memainkan
wayang, atau menabuh gamelan. Pada kesempatan lain, ada talent yang lain
membuat performance. ‘’Bukan panggung hiburan, arena ini bertujuan mendorong
kreativitas anak-anak, kreativitas offline, sesuai dengan kemampuan
masing-masing,’’ kata Ahmad Irfandi dalam sebuah wawancara.
Di arena permainan dan tempat membaca itu anak-anak
bisa bertemu dengan teman sebaya lantas
bermain bersama. Pada waktu yang lain, anak-anak diajak bermain di alam bebas
di pinggiran dusun, diajari menangkap ikan di kolam berlumpur, belajar memproduksi
batu bata atau
touring meyusuri pematang sawah. ‘’Cipratan air
dan lumpur ini berguna untuk menumbuhkan keberanian pada anak-anak,’’ kata Ahmad Irfan yang belajar psikologi pendidikan ketika kuliah di
Unes Surabaya itu.
Arena Parenting
Dalam setiap kegiatan, sebagian besar anak-anak itu datang dengan
didampingi orang tua mereka. Namun, mereka diminta menjauh dari lokasi dolanan.
Para orang tua diminta memberi keleluasan bagi anak-anak mereka bermain sebebasnya. Memanfaatkan kehadiran orang tua itu, Yayasan Lali
Gadget menggelar acara diskusi gratis tentang parenting. Tempatnya di Balai
Desa Pagergumbuk, yang hanya sepelemparan batu dari lokasi dolanan.
Diskusi parenting ini bertujuan memberikan perpektif yang lebih luas dan
update, bagi para orang tua, terkait pola asuh anak sesuai zamannya. Diskusi
digelar dua bulan sekali. Narasumber datang dari Komunitas Cangkrukan Surabaya, NGO yang menjadi mitra Yayasan Lali Gadget.
Pandemi Covid-19 sempat membuat aktivitas Lali Gadget itu menyurut. Namun,
seiring meredanya pandemi, aktivitas dolanan di Dusun Bendet Sidoarjo itu
menggeliat kembali. Sambutan dari warga masyarakat pun tumbuh kembali. Sejumlah
orang tua dari Gresik, Surabaya, Malang, pun mengajak anak-anak mereka bermain
di Dusun Bendet.
Ahmad Irfandi dan teman-teman pun menyambut mereka dengan tangan terbuka.
Tapi ada syarat tambahan bagi peserta dolanan dan orang tua mereka. Semua harus
mengikuti protokol kesehatan : menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci
tangan.
Untuk jangka
panjang, Irfan, Nicho dan kawan-kawan berniat menjadikan Kampung Lali Gadget itu sebagai wahana edukasi dan wisata yang bisa
membuat anak melupakan gadgetnya dan
beralih ke kegiatan kreatif. Nicho mulai membuat
yayasan bernama Pagar Edukasi Nusantara (Pena) sehingga segala kegiatannya bisa
lebih terorganisir. Ke depan pihaknya juga akan membentuk culture hub (terminal
budaya) di Kampung Lali Gadget. diharapkan di sana akan banyak komunitas budaya
yang saling bertemu dan berkolaborasi.
Atas pencapaian
itu, Ahmad Irfandi mewakili Kampung Lali
Gadget menerima sejumlah apreasiasi
dan penghargaan. Salah satunya ialah penghargaan SATU
Awards 2021 Astra di bidang pendidikan. Penghargaan itu diberikannya 28 Oktober 2021 lalu bersamaan dengan Hari
Sumpah Pemuda.
Indy Keningar
Komentar
Posting Komentar