Saminisme, Ajaran Filsafat Sederhana yang Diperlukan Hari Ini
Sumber foto: Phinemo
Filsafat
sepertinya sedang naik daun karena menjadi percakapan umum di media. Di acara
Indonesia Lawyer Club, kita dapat menonton Rocky Gerung yang dengan lincahnya
membangun argumen berlandaskan ilmu filsafat. Sedangkan di Youtube, kita dapat
menemukan Martin Suryajaya berbicara mengenai filsafat. Ada pula Salihara,
sebuah Channel yang gemar membahas filsafat, sastra dan seni.
Bila
berkunjung ke Yogyakarta, jangan lupa mampir ke Masjid Jendral Sudirman pada
Rabu malam. Sebab Fahrudddin Faiz, seorang dosen UIN Sunan Kalijaga, akan
berdiri di balik mimbar dan berbicara mengenai filsafat di acara rutin yang
biasa disebut Ngaji Filsafat.
Bahkan
beberapa penerbit kembali menerbitkan buku-buku bertema filsafat. Semisal
Basabasi, yang menerbitkan sembilan seri buku filsafat, Plato, Aristoteles, dan
lain-lain, dan berakhir pada Rene Descartes. Ada pula Marjin Kiri, yang
menerbitkan buku karya Amartya Zen yang berjudul "Kekerasan dan Identitas",
lalu karya Lorenzo Fioramonti yang berjudul "Problem Domestik Bruto",
dan lain-lain.
Fenomena ini
membuat filsafat terdengar akrab di telinga masyarakat. Beberapa penulis
artikel bahkan gemar mengutip kalimat dari para filsuf untuk menguatkan poin
tulisannya.
Kita tahu,
filsafat ialah ilmu yang mengantarkan kita pada kebijaksanaan. Sesuai dengan
akar katanya yang berasal dari Yunani, yaitu philosophia, yang artinya pecinta
kebijaksanaan. Dengan mempelajari filsafat, orang akan semakin peka terhadap
peristiwa di sekitarnya, entah itu peristiwa politik, psikologi, moral, etika
dan lain-lain. Dan biasanya, bila berbicara filsafat, orang akan merujuk pada
para filsuf Yunani, India, China, Jerman, Rusia, Timur Tengah.
Namun
sebenarnya, di tanah air kita pun pernah terlahir beberapa filsuf. Sebut saja,
Ronggowarsito, Syekh Siti Jenar, Sunan Bonang, Ki Ageng Suryometaram, Hasyim
Asyarie, Kiai Sholeh Darat, dan lain-lain. Ajaran para tokoh tersebut lebih
dekat dengan masyarakat karena mereka terlahir di tanah air yang sama.
Bahkan
hingga hari ini, ada sebuah kelompok yang masih melanggengkan ajaran filsafat
yang terlahir dari kelompok mereka. Ajaran itu disebut Saminisme. Saat ini
penganutnya tersebar di kawasan Blora, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur.
Saminisme
diajarkan oleh Samin Surosentiko. Dia lahir pada 1859 di Desa Ploso keghiren,
Randublatung, Blora dengan nama asli Raden Kohar. Ayahnya adalah Raden
Surowijoyo, priyayi rendahan dari Bojonegoro.
Sejak muda,
Raden Kohar menjalani hidup sebagai petani. Suatu saat, dia membuang identitas
priyayinya, mengganti namanya menjadi Samin karena menurutnya nama tersebut
merakyat. Pergantian nama itu seiring dengan sifat bijak yang tumbuh pada
dirinya, dan sering memberikan nasihat-nasihat pencerahan pada lingkungan
sekitarnya.
Penganut
Saminisme biasa disebut peseduluran sikep. Mereka tidak pernah menyebut diri
mereka dengan istilah Samin. Mereka juga memiliki kitab suci yang bernama Serat
Jamus Kalimasada. Kitab suci tersebut terdiri dari beberapa buku, yaitu Serat
Punjer, Serat Pikukuh Kasajaten, Serat Uri-uri Pambudi, Serat Jati Sawit, dan
Serat Lampahing Urip.
Beberapa
orang sering menggunakan istilah Samin sebagai bahan lelucon. Ini berkaitan
dengan sikapnya yang menolak membayar pajak pada masa kolonial Belanda.
Pemerintah kolonial resah. Mereka lalu membangun citra bahwa istilah Samin
adalah hal yang buruk.
Selain itu
pada hari ini, para penganut Saminisme cenderung mengurung diri dan terlihat
beda. Semisal kesehariannya, mereka selalu memakai pakaian serba hitam dengan
celana selutut. Selain itu, mereka juga tidak bersekolah. Mereka juga melarang
perdagangan, sebab di dalamnya terdapat unsur ketidakjujuran. Selain itu,
mereka pantang menerima sumbangan berupa uang.
Namun, perlu
disadari bahwa Saminisme adalah ajaran yang baik. Bila diterapkan dengan
sungguh-sungguh, akan mengantarkan orang pada kebijaksanaan dan kedamaian.
Misalnya saja, penganut Saminisme pantang mendiskrimanasi orang berdasarkan
agamanya. Karena menurut mereka, yang terpenting pada manusia ialah tabiatnya
dalam hidup. Mereka juga pantang mengganggu orang lain, dan mengambil hak milik
orang lain.
Para
penganut Saminisme juga membangun hubungan kekerabatan yang baik. Mereka
memiliki tradisi ujung-ujung (saling berkunjung), terutama saat salah seorang
keluarga mempunyai hajat.
Dan yang
patut dicontoh pada hari-hari ini ialah pandangan para penganut Saminisme
terhadap lingkungan. Mereka hanya memanfaatkan alam secukupnya, tidak pernah
mengeksploitasi. Ini sesuai dengan pola hidup masyarakatnya yang sederhana dan
apa adanya. Mereka bahkan menganggap tanah sebagai ibu, yang akan memberikan
penghidupan bila dikelola sebaik-baiknya.
Komentar
Posting Komentar