Potensi Konflik
Kaum perempuan Poso makin berani tampil sebagai agen perdamaian. Toh,
potensi konflik tak bisa menyusut begitu saja. Apa lagi sejak 2010 kelompok
teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) mulai beroperasi di Poso sebagai
gerakan bersenjata yang menebar aksi
kekerasan. Banyak korban jatuh. Sekolah Perempuan Mosintuwu itu
melakukan perlawanan.
Sesekali muncul isu yang menjurus pada kerusuhan. Para perempuan pun saling
komunikasi seraya mengecek ke berbagai pihak tentang pihak, termasuk ke aparat
keamanan tentang apa yang terjadi. Umumnya pelintiran isu dan prasangka bodong.
’’Kalau sudah mulai orang-orang berkumpul, saya sampaikan itu hanya isu,
jangan terpancing,’’ kata Asni Yati Hamidi, perempuan muslim dari Desa Tangkura,
Poso Pesisir Selatan.
Toh, sepak terjang MIT itu membuat banyak petani dirugikan. Mereka tidak
berani pergi ke ladang yang lokasinya
terpencil. Produksi kakao anjlok sampai 70 persen pada 2015. Seiring
dilakukannnya operasi penegakan hukum, angka produksi mulai pulih. Gerakan
perempuan ini pun makin meluas
cakupannya. Bukan hanya agen perdamaian,
namun juga agen perubahan sosial dan ekonomi.
Maka, di luar gerakan edukasi, aksi pemberdayaan sosial dan ekonomi terus
digalakkan, mulai dari pengembangan ekonomi pedesaan berbasis ke alam,
tradisi-budaya yang berprinsip gotong royong, gerakan kedaulatan pengelolaan
sumberdaya alam yang berkelanjutan, bank tani, aksi perlindungan pada perempuan dan anak, dan semacamnya. Dengan
dukungan belasan staf, Institut Mosintuwu melakukan pendampingan atas gerakan
kaum perempuan itu.
Berbagai penghargaan telah diterima Lian Gogali. Ia menerima penghargaan Indonesian
Woman of Change 2015 dari Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia. Sebelumnya
pada tahun 2012, ia meraih Coexist Prize
dari Yayasan Coexist asal Amerika Serikat untuk pengembangan dialog serta
perdamaian antar-agama dan keyakinan. Lian juga menerima sejumlah penghargaan
dari berbagai lembaga di tanah air.
Namun, penghargaan bukan tujuan. Maka, ketika lahan pertanian warga terendam air Danau
Poso, akibat kehadiran instalasi pembangkit listrik (PLTA), Lian Gogali bersama
kaum perempuan Poso pun berteriak lantang. Kini giliran pemerintah untuk tidak
tinggal diam.
Penulis : Indy Keningar
Komentar
Posting Komentar