Perempuan, Punya Peran Penting Wujudkan Nilai Revolusi Mental
Anda tentu sudah tidak asing dengan semangat Revolusi Mental. Dalam kehidupan sehari-hari,
praktik revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja
keras, dan punya semangat gotong royong.
Sedikit kilas balik, ide
gagasan revolusi mental yang pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno
pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. Tujuannya untuk
membangkitkan kembali semangat perjuangan dan membentuk sikap nasionalisme.
Ide tentang Revolusi mental digaungkan oleh presiden Indonesia ke-7,
Joko Widodo pada tahun 2014. Idenya adalah bagian dari program kerja yang
tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
Salah
satu isu strategis dalam Prioritas Nasional Revolusi Mental dan Pembangunan
Kebudayaan ialah belum optimalnya peran keluarga. Padahal, keluarga memiliki
peran penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian individu dari usia
dini sampai dewasa yang nantinya dapat berpengaruh terhadap masa depan anak
tersebut. Menyoal peran keluarga, ada peran peremuan yang tentu saja tidak bisa
diabaikan
Sebab,
sosok perempuan memiliki peran strategis dalam masyarakat karena menjadi ibu bangsa. Melalui naluri keibuan yang terlatih,
perempuan mampu menjadi guru utama dan pertama bagi generasi penerus untuk
melaksanakan revolusi mental melalui keluarga.
Sebagai
Ibu Bangsa, berarti berusaha menumbuhkan generasi muda yang sadar akan
kebangsaanya. Seorang perempuan diharapkan bisa kreatif, inovatif, unggul, dan
berdaya saing lokal, nasional, regional, global serta sehat jasmani dan rohani.
Di sini
jelas, pemberdayaan perempuan merupakan tools
yang paling efektif dalam pembangunan. Ada tiga hal penting yang memiliki peran
penting dalam pembangunan yakni perempuan, pemuda, dan teknologi informasi
Selain
itu, seorang ibu bangsa juga diharapkan bisa melaksanakan pola asah, asih,
asuh, ajar, dan amal. Pasalnya, dalam keluarga perlu terwujud ketahanan
keluarga. Dan Ibu menjadi sangat sentral dalam melindungi keluarganya terhadap
hal hal yang bersifat negatif.
Tak hanya dalam keluarga, peran perempuan yang lebih luas
lagi juga di dalam komunitas, sebab ruang komunitas bisa menjadi sarana
komunikasi sekaligus ajang berbagi pengalaman sesame perempuan dengan berbagai
latar belakang. Bisa dibilang, komunitas
menjelma sebagai support system agar
perempuan menjadi lebih berdaya.
Keberadaan support
system sangat menunjang peran perempuan, sebagai contoh mereka yang
bergelut dalam bidang atau passion yang sama bisa saling menunjang. Komunitas
juga menjadi salah satu tools yang
membuat perempuan bisa saling mendukung satu sama lain.
Sementara
itu, mengutip laman Kementerian Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak
(Kemen PPPA) disebutkan jika dalam Prioritas Nasional ke-4 (PN.4) Revolusi
Mental dan Pembangunan memiliki peran dalam Program Prioritas pertama yaitu
Revolusi Mental dan Ideologi Pancasila.
Melihat
pentingnya peren perempuan, ternyata masih banyak problem perempuan yang perlu
mendapat perhatian lebih. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018
menunjukkan angka perkawinan anak masih tingginya yakni sebesar 11,2 persen.
Selain
itu, hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 menunjukan masih tingginya
angka kehamilan yang tidak diinginkan, yaitu sebesar 7,1 persen berupa kehamilan
tidak direncanakan dan 1,3 persen perempuan yang menikah menganggap hamil bukan
pada waktu yang tepat (SUPAS, 2015) serta meningkatnya angka perceraian
rata-rata 3 persen pertahun.
Data
tersebut menunjukan saat ini pembangunan keluarga masih dihadapkan dengan
sejumlah permasalah yang kompleks. Dari data tersebut juga terungkap jika
permasalahan keluarga yang terjadi sekarang ini berawal dari kurangnya kesiapan
untuk berkeluarga, ditambah lagi dengan kasus perkawinan anak, angka kehamilan
yang tidak dinginkan yang kemudian berujung pada perceraian.
Tentunya
Kemen PPPA memiliki peran penting dalam keberhasilan memperkuat kualitas dan
peran keluarga melalui pengasuhan berbasis hak anak. Keluarga merupakan pengasuh
utama dan pertama bagi anak sehingga keluarga berperan penting dalam
pembentukan karakter dan kepribadian anak. Jika hal tersebut berjalan dengan
baik, maka angka perkawinan anak dan peceraian pasti akan berkurang.
Lantas
apa yang sudah dilakukan Kemen PPPA? Melakukan beberapa implementasi gerakan
nasional revolusi mental diantaranya dengan menerapkan nilai-nilai esensial
revolusi mental melalui Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (RB) yang mencakup
nilai, Profesional, Equal, Dedikasi, Unggul, Loyalitas, Intergritas yang di
singkat dengan sebutan PEDULI, Penyusunan Rentsra Kemen PPPA 2020-2024.
Implementasi
lainnya adalah, pengintegrasian isu gender dan isu anak dalam kebijakan,
program, dan anggaran Kemen PPPA, serta pembentukan Unit Pelaksana Teknis Daerah
Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA).
Di
era pandemi COVID-19, implementasi GNRM meliputi, berkolaborasi dengan K/L,
Pemda dan Masayarakat dalam menjalankan 10 Aksi #BERJARAK (Bersama Jaga
Keluarga Kita), mengintegrasikan isu gender dan hak anak ke dalam protokol dan
strategi penanganan Covid -19 sehingga menjadi lebih responsif gender dan ramah
terhadap anak serta mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak, penyediaan
Layanan Psikologi Sehat Jiwa (SEJIWA) untuk Perempuan dan Anak, yang meliputi
layanan Edukasi, Konsultasi dan Pendampingan. Serta tak lupa menghadirkan
negara melalui pemenuhan kebutuhan spesifik perempuan dan anak.
Keterangan foto: Menteri PPPA, Bintang Puspayoga
Penulis: Eka
Pramita
Komentar
Posting Komentar