Pemuda Difabel Buktikan Diri Labas Keterbatasan
| Foto shoot (Nu.id) , Anjas Pramono |
Keterbatasan, jangan menjadi
halangan untuk menggapai cita – cita. Pesan tersebut, sangat berarti dan
mengandung makna yang mendalam. Terutama ketika kita mengalami keterpurukan,
dalam menjalani lika liku kehidupan. Diluar sana, keterbatasan menjadi lecutan
untuk meraih kesuksesan tentunya hal ini sangat penting, terutama dalam
membangun revolusi mental.
Adalah
Anjas Pramono, meskipun kondisi tubuhnya memiliki keterbatasan karena mengidap
kelainan tulang bernama penyakit osteo genesis imperfecta tidak membuat pemuda
asal Kudus, Jawa Tengah ini putus asa. Kegigihannya untuk berjuang tanpa
mengenal lelah terlihat sejak kecil, berbagai macam buku dengan tema – tema
menarik dibaca. Salah satunya buku Max Havelaar’ setebal 480 halaman, ini juga
di dorong oleh peran ayahnya yang berprofesi sebagai guru Pancasila dan
memiliki koleksi buku yang cukup lengkap.
Bak batu besar penghalang, berbagai
pengalaman pahit dialami karena keterbatasan fisiknya. Namun, bocah istimewa
ini tetap bertahan. Hingga memasuki SMA, ia membuktikan kemampuannya menjadi
salah satu perwakilan Indonesia yang mengikuti olimpiade internasional di
Singapura.
Prestasi ini, membuatnya semakin
percaya diri melanjutkan studi di Universitas Brawijaya dengan pilihan jurusan
impiannya Teknologi Informasi, seakan tak ingin kehilangan moment Anjas terus
menyibukkan diri mengikuti berbagai organisasi mulai dari menjadi Ketua Komisariat
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Brawijaya, hingga
Pendiri Organisasi Forum Mahasiswa Peduli Inklusi (Formapi).
Hebatnya lagi, pemuda cerdas ini
sejak awal memang tertantang menggeluti dunia riset dan bidang IT. Ketertarikannya
ini di wujudkan dengan membuat sebuah aplikasi bernama Difodeaf (dictionary for
deaf). Aplikasi kamus bahasa isyarat itu, mendapat medali emas dalam lomba di
Malaysia. Meski sebelumnya aplikasi tersebut, sempat diremehkan oleh kakak
tingkatnya. Hingga kini, ia berhasil menciptakan lima aplikasi berbasis
android. Sebagian besar, temuannya berkaitan dengan isu disabilitas.
Persepsi anjas, para penyandang
disabilitas memiliki hak untuk maju dan menggapai cita – citanya namun patut
disadari bahwa dengan keterbatasan fisik mereka tidak bisa bekerja secara
maksimal di perkantoran. Ditambah lagi minimnya lowongan kerja, memaksa difabel
berjuang sendiri maka dibutuhkan inovasi – inovasi terbarukan yang membantu
kehidupan mereka. Dari situlah, ia mencetuskan aplikasi wirausaha berupa ruang E – Commerce bagi penyandang
disabilitas.
Tentunya, kisah Anjas Pramono menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi generasi muda Indonesia lainnya. Jangan takut untuk mencoba, dan jangan pernah menyerah dengan keadaan. Lewat semangat dan tekad yang kuat, niscaya harapan dan cita – citaakan tercapai.
Penulis : Octavianus Dwi Sutrisno
Komentar
Posting Komentar