Menyikapi Sumber Informasi dengan Tabayyun ala Santri
| Foto: Hallo Malang |
Sadar atau tidak, kita hidup di zaman yang
dibanjiri informasi. Terlepas penting atau tidak, kabar-kabar begitu saja
membanjir tanpa kita tahu asal muasalnya. Sebut saja lewat Televisi dan media
sosial. Bahkan kalaupun kita menolak kedua itu, informasi-informasi tetap
datang di tempat-tempat yang semestinya menjadi wilayah privat, katakanlah
Whatsapp dan surat elektronik.
Dulu, di masa Orde Baru, informasi
terhambat karena ada pihak-pihak yang mengekangnya. Namun sekarang, semuanya
seolah-olah terbolak-balik. Kita tenggelam di dalam lautan informasi yang
seolah-olah hanya dapat dinikmati secara sekilas-sekilas.
Katakanlah jika Anda tidak punya HP,
informasi tetap akan menyerang lewat orang-orang di sekitarmu. Mereka bertukar
kabar dengan dasar, bila meminjam istilah Bapak Quraish Shihab, "Katanya dan katanya."
Maka dari itu, kita perlu alat untuk
menguji, dan menyeleksi kelayakan informasi tersebut, yang sering kali
menyerang tanpa memberikan sejenak waktu untuk kita bersiap-siap. Alat termudah
dan termurah, kita mengenalnya sebagai ilmu logika, tetapi sayang sekali, alat
ini tidak dikenalkan secara serius di sekolah-sekolah. Bahkan barangkali,
guru-gurunya pun tak akrab dengan ilmu tersebut.
Namun di tempat lain, yaitu pesantren, ilmu
logika diajarkan di kalangan santri. Dia menjadi satu mata pelajaran dan setara
dengan mata pelajaran yang lain. Oleh sebab itu, bersyukurlah bila kamu seorang
santri.
Yang perlu diketahui, para santri tidak
menyebutnya sebagai ilmu logika, melainkan ilmu mantiq. Mantiq adalah bahasa
arab, berasal dari akar kata nathaqa, yang artinya, berpikir. Sedangkan orang
yang berpikir disebut nathiqun, dan objek yang dipikirkan disebut manthuqun.
Dan alat berpikirnya disebut manthiqun.
Dengan menguasai ilmu mantiq, kita dapat
menghemat waktu dan energi. Sebab apa pun informasinya, dapat kita gugurkan
secara langsung bila terdeteksi mengandung sesat pikir. Dengan begitu, tak
perlu lagi menggunjingkan informasi tersebut lama-lama. Apa perlunya
menggunjingkan informasi yang
menyesatkan?
Perkara informasi, sebenarnya ada dua poin
yang mesti digaris bawahi. Yang pertama, pembawa informasi tersebut, atau biasa
disebut sumber informasi. Yang berikutnya yaitu, isi informasi tersebut.
Dalam ajaran Islam yang juga diajarkan di
pesantren, ada sebuah tradisi yang disebut tabayyun, yang artinya, mencari
kejelasan hingga terang dan benar. Tabayyun juga dapat dipakai sebagai alat
agar akal seseorang tetap waras dalam menghadapi era informasi hari ini.
Dalam QS Al Hujarat ayat 6, dianjurkan
bahwa, pembawa kabar atau informasi yang patut di-tabayyun ialah orang-orang
fasiq; orang yang kesehariannya kerap melanggar aturan agama; melakukan
tindakan keliru yang berujung pada dosa, dan pelanggar budaya positif
masyarakat.
Meskipun demikian, tabayyun sebaiknya tetap
dilakukan bila informasi terkait menyangkut kemaslahatan khalayak. Artinya,
meskipun keluar dari mulut-mulut orang baik, informasi tetap harus diuji. Sebab
boleh jadi informasi tersebut mengalami pengikisan karena prosesnya yang
panjang dari satu tangan ke tangan yang lain. Selain itu juga untuk
mengantisipasi kalau pembawanya ialah seorang pelupa. Ini biasa terjadi bila
pembawa informasi itu orang-orang berusia senja.
Di lain hal, tabayyun semestinya cuma
berlaku pada informasi yang sekiranya penting. Karena saking banyaknya
informasi, kemungkinan seseorang akan lelah bila semua mesti dicari
kebenarannya. Terlebih, untuk apa juga mencari kebenaran informasi yang tidak
penting; yang tiada manfaat bagi diri sendiri maupun orang banyak.
Namun
yang jadi soal, tabayyun hanya berfungsi bila seseorang bermental berani
mengakui kalau dirinya bodoh atau tidak tahu. Sedangkan menjadi bodoh itu
memalukan, dan anggapan itu membuat orang tergesa-gesa menarik kesimpulan pada
suatu informasi.
Padahal perlu diketahui, bahwa setiap orang
hanya pintar di satu atau dua hal, dan bodoh di lain hal. Dengan menyadari itu,
sebenarnya kita tak perlu malu dengan kebodohannya dan mau sering-sering bertanya.
Hanya dengan begitu tabayyun dapat difungsikan agar kita tidak torambang-ambing
di era sekarang ini.
Penulis: Ecka Pramita
Komentar
Posting Komentar