Matahari Kecil itu Bernama Yasser Muhammad Syaiful
Yasser Muhammad Syaiful terbilang masih muda. Usianya baru 27 tahun. Tapi yang dilakukannya untuk masyarakat sangat luar biasa dan relevan dengan hari ini. Dia mendirikan Komunitas Matahari Kecil, atau biasa disingkat Matcil.
Sekilas,
namanya terdengar menggemaskan. Orang yang membacanya, mungkin akan berpikir
bahwa Matcil ialah salah satu sekolah
TK. Itu pikiran keliru, tentu saja. Sebab Komunitas Matcil ternyata merupakan
tempat berkumpulnya relawan bidang pendidikan, khususnya guru.
Menurut data
statistik di lokadata, jumlah anak putus sekolah di tahun ajaran 2019-2020
mencapai 157,166 siswa. Itu angka yang
meresahkan. Sebab sebanyak itu anak tak sekolah akan membuat kita
bertanya-tanya, "Apa yang dilakukan mereka sehari-hari?"
Kita tak
tahu pasti jawabannya. Tapi kita tahu pasti, bahwa beberapa dari mereka dapat
kita temui di jalan-jalan kota ketika siang atau pun malam.
Beberapa
dari anak-anak itu berdagang koran, yang lainnya mengamen di bus kota, ada pula
yang mengemis. Sisanya, hanya mereka dan Tuhan yang tahu, tapi yang pasti tidak
berada di sekolah. Artinya, mereka tak mengenyam pendidikan formal selayaknya
anak-anak seumurannya. Sebab musababnya banyak hal, tapi bermuara pada tempat
yang sama, yaitu persoalan ekonomi rumah tangga.
Ini tentu
menyedihkan. Karena tanpa pendidikan formal, kemungkinan mereka tak dapat
mengakses hal-hal terkaitan kecakapan atau skill. Maka, boleh dibilang
anak-anak itu telah gagal di awal di hadapan persaingan kerja, dan kelak akan
berakhir pada pekerjaan ala kadarnya, dengan upah seadanya. Artinya, kemiskinan
orang tua mereka, akan menumbuhkan kemiskinan yang lain, dan kemiskinan yang
lain berpotensi melahirkan kemiskinan yang lain lagi. Orang-orang menyebutnya,
kemiskinan struktural, dan ini nyata adanya.
Maka, sudah
semestinya masyarakat bersyukur memiliki orang semacam Yasser Muhammad Syaiful.
Kendati bukan orang terkenal, tapi pergerakan Matahari Kecilnya sungguh mulia.
Bersama para pemuda, yang kebanyakan ialah mahasiswa, mereka bersedia
menyalurkan pendidikan tanpa digaji.
Dilansir
dari Tribun Jabar, semua bermula ketika Yasser menjabat sebagai Ketua Karang
Taruna di Komplek Gading Regency, Soekarno Hatta, Bandung, pada 2015. Seorang
warga meminta kepadanya untuk membuat sekolah di masjid.
"Ada 14
anak yang kami ajar awalnya. Ditambah beberapa orang tua yang sudah
pensiun," kata Yasser, kepada Tribun Jabar, saat ditemui di SMP Terbuka
Firdaus, Bandung (23/1/2019).
Di lain
cerita, aktivitas belajar mengajarnya pernah nyaris berhenti. Relawan yang
tersisa hanya empat orang. Namun alih-alih berhenti, Yasser dan kawan-kawannya
malah mencetuskan sebuah nama, yaitu Matahari Kecil, lalu menjalin kerja sama
dengan SMP Terbuka Firdaus, dan SMP Negeri 8.
Seiring
waktu, Matahari Kecil berniat untuk mengajar dengan kapasitas yang cukup;
menambah 25 pengajar relawan yang berusia muda. Sebab menurut mereka, generasi
muda memiliki stamiba yang baik dan energik. Maka, mereka pun membuka lowongan
sebagai relawan, melalui Instagram dan Path dan meminta kawan-kawannya untuk
menyebarkan lowongan tersebut.
Bukan main
hasilnya, karena pendaftar mencapai 206
orang. Sebanyak itu anak muda, berniat untuk mengajar dengan cuma-cuma, tentu
itu hal yang mengharukan. Menanggapi hal itu, Matahari Kecil berinisiatif
membangun struktur organisasi yang mandiri, dan modern, dan melahirkan beberapa
tim, yaitu sociopreneur, secretary,
creative project, human resource, public relations, dan documentation.
| Foto: Tribun Jabar dan Gramhir |
Hingga 2019,
relawan pengajar di kota bandung telah mencapai 1,100 orang. Sedangkan pada
2017, Yasser dan Matahari Kecilnya telah merambah ke Jakarta dengan
melaksanakan kegiatan belajar mengajar di TK Warga Teladan, Kebon Kacang.
Dilansir
dari Radar Bandung, ketika pandemi pun Matahari Kecil tetap berkontribusi
terhadap pendidikan melalui program-program keren. Sebut saja, Samacil (Satu
Jam Bersama Matcil); sebuah siaran langsung yang dapat disaksikan di media
sosial Instagram @mataharikecil_id. Lalu Education Day, Career Day, dan
lain-lain.
Tradisi pendidikan kita, secara turun temurun bergerak karena wali murid membayar, dan guru-guru menerima upah. Tapi Yasser dan kawan-kawannya terlahir secara lain. Mereka mengupayakan hal-hal yang mustahil diukur dengan material. Mereka bersusah payah tanpa upah. Dan barangkali Matahari Kecil tak hanya sebuah nama yayasan, tapi memang sebenar-benarnya benda yang menyinari anak-anak yang tak terurus, entah oleh keluarga, atau negara.
Penulis: Ecka Pramita
Komentar
Posting Komentar