Bukan Konflik Agama.!!

 


Terjun menjadi pegiat sosial di kampung halaman sesungguhnya jauh di luar rencana Lian Gogali. Ia pernah bercita-cita  menjadi guru. Maka, selepas SMA 1997, ia melanjutkan pendidikannya di Jogya. Ia sempat mendengar ada kerusuhan pada Poso akhir 1998, namun tidak terlalu dipikirkannya. Pada 1999 ia kembali ke kampung karena ayahnya meninggal karena akibat alamiah.

Ketika berada di kampung halamannya itu ia tahu, bahwa skala konflik yang terjadi jauh melampaui dugaannya. Begitu banyak kerusakan  terjadi di Kecamatan Pamano, termasuk kediaman kakaknya yang hancur total dibakar massa. Ia tak percaya, bahwa masyarakat adat di kampung halamannya yang dipahaminya begitu toleran terhadap perbedaan agama dan etnik bisa terbelah begitu rupa.

Lian Gogali kembali melanjutkan studinya. Lulus S-1 ia meraih beasiswa S-2 di tempat yang sama: Universitas Kristen Duta Wacana. Menjelang penyusunan tesis Lian teringat kampung halamannya, dan bergema kembali pertanyaan lamanya : mengapa konflik itu bisa terjadi. Maka, sepanjang 1,5 tahun, ia kembali ke kampungnya, meneliti peristiwa itu, dan mencoba melihatnya dari perspektif kaum perempuan. Ratusan orang ia wawancarai sebagai respondennya.

Dari penelitian itu, ia dapat menyimpulkan bahwa kaum perempuan Poso itu punya peran penting untuk mengerem konflik. Kaum  pria memantik konflik, perempuan meredamnya. Begitu berulang kali begitu. Namun, ketika  itu kaum perempuan sendiri  terbelah pada kelompok identitas masing-masing. Seraya menjalankan penelitian, Lian melakukan pendampingan kepada perempuan rentan di tempat-tempat pengungsian.

Tentang konflik Poso itu sendiri, Lian Gogali tak melihatnya sebagai pertikaian antar-agama. ‘’Saya sangat tidak percaya konflik Poso itu berlatar belakang agama,’’ ujarnya  seperti dikutip dw.com.id. Pada awalnya, gesekan terjadi karena isu pemilihan bupati. Berikutnya, saat terjadi pertikaian, pers dan banyak lembaga lainnya, mengkonstruksikannya sebagai konflik agama.

Justeru karena konstruksi  media pers, lembaga pemerintah dan orang-orang luar yang melihatnya sebagai konflik agama, pertikaian itu dimaknai sebagai konflik agama oleh orang setempat. Ingatan kolektif tentang toleransi dalam masyarakat tradisi Poso yang toleran ikut terhapus. Saat penelitian lapangan rampung dan Lian siap kembali ke Jogya, sejumlah perempuan mengeluh padanya. ‘’Apa yang akan terjadi atas kami setelah Lian pergi?.’’

Ingatan akan konflik itu pula yang mebuat Lian Gogali memilih pulang ke Pamano, Poso, seusai dia menamatkan studi S-2. Lian ingin terjun sebagai pegiat sosial dan bekerja sebagai agen perdamaian dengan melibatkan kaum perempuan. Ia pulang kampung. Perlu waktu beberapa tahun dia meraih kepercayaan kaum perempuan itu dalam skala luas  untuk mengajaknya mereka merekonstruksikan kembali tradisi toleransi yang tiba-tiba menghilang.

Pendekatan yang ia lakukan ialah dengan mendatangi para perempuan itu, mendengar keluhannya, dan mengajak bicara. Tahap berikutnya anjangsana dia kembangkan menjadi forum diskusi. Diskusi satu kelompok berubah menjadi forum diskusi antar-kelompok. Forum perempuan itu pun berubah menjadi sekolah perempuan. Sejumlah “mata pelajaran” disusun. Ada materi toleransi, perdamaian, dan pengetahuan agama. Pelajaran tidak hanya dibahas di kelas, juga dengan berkunjung ke masjid dan gereja. “Kami ingin mengurai kesalahan penafsiran yang terjadi selama ini, bahwa Islam seolah mengajarkan membunuh, dan orang Kristen punya tiga Tuhan,” kata Lian menambahkan. Namun, di luar itu semua yang didorong Lian Gogali adalah keberanian kaum perempuan untuk berpikir kritis, tahu tentang hak-haknya dan berani mengambil inisiatif untuk perdamaian serta kemajuan.

Lian Gogali juga tak  ingin  menyapa kaum perempuan namun melupakan kelompok anak. Program membaca buku dan perpustakaan keliling digulirkan, melalui Project Sophia,  nama yang mencomot dari Sophia Ava Choirunissa Gogali, putri tunggal Liam. Materi pelajaran bertambah terkait isu hak-hak perempuan, hak warga desa, pemerintahan desa dan beberapa hal lainnya. Sambutan dari para perempuan terus menguat dan Lian membangun Institut Mosintuwu.

Komentar

Postingan Populer