Bila Diolah Dengan Genah, Sampah Bisa Berubah Menjadi Rupiah
Usianya baru menginjak 44 tahun, namun Mohammad Baedowy sudah tergolong senior dalam hal ihwal daur ulang plastik. Ia punya pengalaman 21 tahun sebagai social entrepreneur, yakni pelaku usaha yang
berbasis pada kepedulian penanggulangan sampah plastik serta pemberdayaan kaum
pemulung. Kini Baedowy menjadi salah satu social entrepreneur sampah terkemuka
di tanah air.
Memulai usahanya pada tahun 2000, ia mengalami situasi jatuh bangun. Namun,
alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka di Malang itu terlanjur jatuh hati
dengan tantangan di seputar solusi pencemaran sampah plastik. Maka, ia terus
menggelutinya dan berhasil. Basisnya usahanya di Kota Bekasi.
Usahanya maju, dan Mohammad Baedowy bisa hidup sangat layak dari usahanya.
Jerih payahnya juga mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak. Ia meraih
penghargaan Kalpataru tahun 2001 dari Kementerian
Lingkungan Hidup Indonesia; meraih gelar ASEAN Young Green Soldier di 2011, dan
penghargaan Industri Hijau Nasional 2010 dari Kementerian Perindustrian RI. Ia pun
tampil di beberapa acara talkshow TV Nasional seperti Kick Andy dan Hitam
Putih.
Sampah plastik merupakan salah satu
masalah serius bagi lingkungan
hidup. Di Indonesia, volume sampah plastik saat ini mencapai 5,4 juta ton setahun, atau
menyumbang 14 persen total produksi sampah. Peringkat sampah di Indonesia adalah sampah
organik, sampah plastik dan
sampah kertas di posisi ketiga. Secara global,
jumlah sampah plastik yang dihasilkan mencapai 300
juta ton setiap tahunnya.
Di Indonesia, sampah plastik masuk ke laut karena kebiasaan masyarakat yang
main buang sampah ke selokan dan sungai. Dari 5m4 juta ton sampah plastik itu,
3,2 juta ton diantaranya masuk ke laut. Dari sungai sampah mengalir sampai jauh
dan akhirnya ke laut. Karena lebih ringan dan bentuknya yang khas, seperti
botol minuman dan kantung, tak ayal sampah plastik lebih menyebar di lautan,
katimbang batang kayu atau lumpur.
Salah satu dampak gawat
membludaknya sampah plastik dapat dilihat
di kerusakan ekosistem laut. Kerap ada berita tentang terumbu karang yang mati, menghitam, karena menjadi tiang sangkutan kantung-kantung plastik. Akibatnya
berikutnya, ikan-ikan karang pun menghilang. Kisah tragedi pun berlanjut dengan
penyu yang terdampar mati di pesisir
karena menelan kantung plastik yang dikira ubur-ubur. Yang memilukan, kita
biasa mendengar paus mati dengan perut penuh sampah plastik.
Dalam sehari-hari, mungkin kita
juga sering melihat sampah plastik mengotori jalan-jalan di sekitar tempat tinggal, di kawasan wisata
dan terutama pusat-pusaat perdagangan. Bukan hanya menjadi polusi
visual, sampah plastik ini juga menjadi polusi secara harfiah
ketika sudah mulai menyumbat
sistem drainase dan
mengakibatkan limpasan banjir
setiap kali hujan lebat datang.
Plastik merupakan penemuan yang
baru yang hadir pada abad
ke-20 dalam bentuk polimer sintetik.
Dalam proses pembuatan
plastik, bahan baku yang paling umum
dipakai adalah produk petrokimia
seperti etana, propana. Selanjutnya etana dan propana dipecah dengan temperatur bersuhu tinggi, hingga terbentuk etilena dan
propilena. Dalam reaktor etilena dan propilena digabungkan dengan katalis
membentuk polimer plastik yang selanjutnya menjadi pelet/bijih plastik.
Bijih plastik itulah yang
diproses menjadi aneka produk plastik seperti sisir, botol plastik, kantong plastik dan banyak bentuk lainnya. Sayangnya,
setelah digunakan dan dibuang sebagai sampah, ia tak mudah busuk dan
terdekomposisi. Perlu ratusan tahun untuk membuatnya terurai. Sementara itu,
orang Amerika tergolong paling boros dengan rata-rata menghasilkan 80 kg sampah
plastik per tahun, di Eropa 60 kg, Indonesia 20 kg. Yang paling hemat adalah
orang India. Sampah plastiknya hanya 2 kg per kapita per tahun.
Usaha Daur Ulang
Melalui CV Majestic Buana Group, Mohammad Baedowy mencoba berbuat dengan
turut menahan luapan sampah plastik itu melalui proses daur ulang. Perusahaannya
mengoperasikan mesin-mesin yang mencacah
limbah plastik, terutama dalam bentuk
borol minuman, botol shampo, minyak oli, kemasan obat dan sejenisnya, yang
umumnya dibuat dari bahan dasar Polietilen (PE) atau Polistiren (PS), untuk
dicetak menjadi barang baru. Produk andalannya antara lain cangkang sabut/ijuk
untuk sapu lantai. Ada juga produk pot untuk tanaman hias.
CV Majestic Buana juga mengekspor platik PE cacahan ke China. Sepekan bisa
2-3 kontainer ukuran 20 ton. ‘’Untung bersih bisa Rp. 500 – Rp. 1000 per
kilogramnya,’’ tutur Baedowy dalam wawancara di sebuah televisi. Bayangkan
keuntungannya kalau sebulan bisa 10 kontainer saja. Plastik cacahan itu tak
semuanya dihasilkan sendiri. Sebagian dipasok oleh mitra usahanya.
Maka, ia terus mencoba memperluas jaringannya. Ia menjual mesin pencacah
plastik bagi mitranya. Bila sang mitra
menginginkan mesin lain untuk mengolah cacahan plastik itu menjadi produk
ember, mangkok plastik atau jemuran pakaian, ia
pun bisa mengusahakannya. Mesin-mesin itu dipesannya di sebuah bengkel
industri di Bekasi. Baedowy pun siap melayani pelatihan pengopoperasiannya. Ia
juga siap mengkoneksikan calon mitranya ke sumber pembiayaan yang murah.
Kepedulian lingkungan adalah basis
dari CV Majestic Buana Group. Ia
akan mengajak para mitranya masuk jejaring rantai pasok dalam bisnis produk daur
ulang plastik. Tujuan, menghasilkan semakin banyak entrepreneur yang
terjun dalam penanggulangan
sampah plastik. Namun, satu hal yang
dia selalu mengingatkan pada para mitranya adalah, bahwa semangat menanggulangi
masalah sampah plastik itu bisa berkelanjutan, hanya bila sebagai usaha itu dapat
tumbuh, memberi manfaat secara ekonomi, hingga usaha tersebut pun
berkelanjutan. Penanggulangan sampah bila semata-mata atas semangat kerja bakti
umumnya mudah kehabisan stamina.
Majestic Buana Group itu sendiri didirikan oleh Muhammad Baedowy di
tahun 2000, jauh sebelum sentimen peduli lingkungan marak
digaungkan melalui media
sosial. Baedowy mememulainya dari nol, dan ia mengaku pada awal-awal baru mulai
dirinya rela menjadi pemulung.
Justeru, karena dia mulai dari bawah, ia paham bagaimana bisnis daur ulang
plastik itu bisa dioperasikan lan langsung bermitra dengan pemulung.
Baedowy adalah pria kelahiran Balikpapan. Selepas kuliah di Malang, ia beruntung bisa
bekerja di Royal Bank of
Scotland, Cabang Jakarta sebagai
auditor. Ia dididik sebagai
auditor, pekerjaan yang menuntutnya selalu cermat pada setiap proses. Toh,
terdorong keinginannya menjadi entrepeneur dan kepenasarannya dengan sampah
plastik, ia putuskan mundur dari pekerjaannya di bank, guna menekuni bisnis
daur ulang plastik. Keluarganya protes tapi dia tak beringsut.
Terjun Bersama Pemulung
Bermodal Rp. 50 juta, ketika itu tahun 2000, ia membeli mesin pencacah
sampah plastik, menyewa lahan dan membangun lapak industri sedehana. Kepalang
basah, Baedowy ikut terjun ke lapangan
bersama mitra pemulungnya mengumpulkan
sampah botol plastik di tempat
pembuangan sampah. Ia
memilah-milih sendiri sampah-sampah itu. Botol-botol dipisah berdasarkan warna dan jenisnya. Tumpukan plastik itu lantas dicacah dengan mesin sederhana, yang dirancangnya
sendiri, dan dijual. Kegiatan itu dijalaninya setiap hari.
Baedowy sempat pula bekerja
di sebuah pabrik ember, sebutan untuk industri kecil yang mendaur
ulang plastik dan menjadikannya produk baru. Biasanya untuk perkakas rumah
tangga, seperti pot, ember,
gantungan baju dan banyak lainnya. Ia
ingin mempelajari prosesnya, dan bagaimana cara menjualnya.
Belajar dari pengalaman itulah Baedowy mampu memproduksi
mesin sendiri, dan kelak kemudian
hari buah inovasinya itu dipakai puluhan mitranya yang tersebar
di berbagai tempat di Indonesia. Awalnya, tak selalu lancar. Sesekali mesin rusak misalnya,
kerugian pun terjadi. Sempat
ia berpikir menutup lapak
sampahnya. Namun, Baedowy
memutuskan jalan terus, sambil terus belajar, dan menambah pengalaman.
Perlahan-lahan ia memperbaiki
bisnisnya pun bangkit lagi. Pada tahun 2003, perusahaannya sudah bisa
memproduksi sejumlah 3 ton plastik
cacah per bulan, yang bisa dijualnya ke berbagai pihak di dalam
negeri, atau bahkan bisa langsung diekspor ke China, dijadikan bahan baku benang poliester. Usahanya terus berkembang maju.
Kini, perusahaan Baedowy sudah beromset milyaran rupiah. Ia
mempunyai 60 karyawan di
Bekasi, yang diambil dari masyarakat di sekitar pabriknya. Ia juga memiliki
jaringan di 80 tempat, tersebar dari Aceh hingga Papua, yang masing-masing
dilengkapi dengan mesin pencacah plastik dan mesin pencetak produk-produk plastik untuk berbagai keperluan
alat rumah tangga. Semua berjejaring
dalam satu rantai pasok. Masing-masih unit itu juga memiliki sekitar 60 orang
pekerja dari warga di sekitar pabrik dan terkoneksi langsung ke jaringan
pemulung.
Tempat Pembuangan Sementara
Melalui jaringan yang luas itu, Baedowy terus ikut menyampaikan pesannya ke
semua pihak untuk memerangi sampah dengan cara reduce (mengurangi), reuse
(menggunakan kembali) dan recycle (daur ulang) alias 3-R. ‘’Untuk bila
melakukan 3-R, sampah harus dibuang di tempat pembuangan yang disediakan. Agar
bisa dipilah dan dipilih mana-mana yang bisa di-reuse dan di-recycle,’’ ujar
Baedowy seperti dikutip di sebuah blog biografinya.
Baedowy mengaku menyaksikan, betapa tumpukan sampah sudah terlalu banyak.
Ia mendorong kemasan menggunakan plastik yang bisa didaur ulang. Tempat
pembuangan sampah yang resmi memungkinkan
dilakukan gerakan 3-R, dan karenanya harus disediakan oleh pemerintah
(pusat maupun daerah), sehingga sampah tidak masuk ke selokan, sungai dan
akhirnya ke laut. Dengan adanya tempat pembuangan sementara, sampah akan
selamat sampai pembuangan akhir, dan dikendalikan dampak buruknya di sana.
Sebagai pebisnis, Baedowy merupakan
bos yang dermawan. Ia menganggap
para pekerhanya itu adalah orang yang berjasa untuk kesuksesannya. Pada
karyawan yang sudah bekerja lebih dari 5 tahun di CV Majestic Buana, ia membagikan bagian yang cukup besar dari
keuntungan bersih pada setiap tahunnya. Ia menempatkan karyawannya sebagai mitra
bukan buruh.
Sukses Baedowy yang berangkat dari
kepedulian akan lingkungan patut menjadi model. Melek isu lingkungan dan rela melakukan upaya lebih adalah
sesuatu yang perlu diterapkan
semua pihak jika ingin menciptakan lingkungan hidup yang layak bagi seluruh
lapisan masyarakat.
Sampah adalah masalah besar bangsa
kita. Tapi bila diolah secara
baik, genah, dan tepat
dengan teknologi tepat pula, sampah pun bisa menjadi rupiah. ‘’Saya berobsesi untuk menyebar luaskan
pengetahuan saya ini kepada seluruh masyarakat,” ujar Baedowy.
Penulis : Indy Keningar
Komentar
Posting Komentar