Berbagi Makanan Untuk Kelompok Rentan
Nama Wida Septarina, 50 tahun, cukup
dikenal di kalangan pelaku PR
(Public Relation) di Jakarta. Bersama sang suami, M. Hendro Utomo, 54 tahun,
Wida mendirikan perusahaan Lotus
Marketing & Public Relation Co., pada
2006, yang kiprahnya cukup luas. Tapi, di luar dunia PR yang bercitra gebyar-gebyar dan wangi,
pasangan Wida dan Hendro punya aktivitas
lain yang membuat mereka sering keluar masuk gang becek untuk berbagi makanan.
Wida dan Hendro adalah pendiri Foodbank of Indonesia (FOI), lembaga
nirlaba yang kegiatannya menampung makanan dari pihak-pihak yang berkelebihan
kepada masyarakat yang memerlukan. Kegiatan ini yang membuatnya harus berurusan
dengan “klien” yang cukup berbeda dari dunia PR. Mereka mendirikan FOI pada Mei
2015 sebagai bagian dari jaringan The Global Foodbank Netwok, jaring lembaga swadaya
masyarakat yang berbagi makanan dengan mereka yang membutuhkan.
‘’Di Indonesia masih banyak lho orang yang kesulitan mengakses makanan, dan
pada sisi yang lain banyak bahan makanan yang terbuang sia-sia,’’ kata Wida,
alumnus Sastra Rusia daricFakultas Ilmu Budaya UI, yang juga meraih gelar S-2 Ilmu Komunikasi dari UI itu.
Kelebihan makanan itulah yang
dikumpulkan Foodbank of Indonesia untuk kemudian disalurkan pada para
beneficaries (penerima manfaat). Makanan itu diberikan dalam bentuk siap makan,
tak perlu diolah lagi.
Dikelola dari sebuah bangunan di Jalan Abdul Majid Dalam III No. 2B Komplek
Deplu Cipete Jakarta Selatan, Foodbank of Indonesia (FOI) itu kini telah mengelola
jaringan vlayanan di 31 titik, tersebar di berbagai daerah, mulai dari Banten,
DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga keNusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
‘’Bantuan makanan ini kami berikan terutama bagi kelompok rentan, yakni anak-anak, lansia dan
sebagian lainnya dari kalangan dhuafa,’’ kata Wida.
Dalam operasional sehari-hari, FOI dibantu oleh tak kurang dari 300
relawan, yang umumnya dari warga masyarakat di sekitar titik layanan. Mereka yang sehari-hari melayani sekitar 11.400
anak-anak dan 1.400 lansia penerima manfaat.
Untuk target ke anak-anak misalnya,
FOI bekerja sama dengan sejumlah PAUD (pendidikan anak usia dini). Menurut
survei yang dilakukan oleh FOI, sekitar 27 persen siswa PAUD yang nota bene
anak di bawah usia lima tahun (balita) itu berangkat ke sekolah dalam kondisi
belum makan pagi. ‘’Bahkan, di daerah perkotaan padat dan miskin, jumlahnya
bisa mencapai 40-50 persen,’’ tutur Hendro Utomo seperti tertulis di laman web
resmi FOI.
Secara umum, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar oleh Kementerian
Kesehatan tahun 2018, 3.9% balita di Indonesia mengalami gizi buruk (severe
malnutrition) dan 13.8% lainnya menderita gizi kurang (underweight). Siswa pada sejumlah
PAUD, yang bekerja sama dengan FOI, menerima makanan tambahahan berupa bubur
kacang hijau, susu, roti isi, biskuit, sereal yang dicampur susu, susu, dan
banyak kombinasi lainnya. FOI juga memantau dampak dari pemberian makanan itu,
dan hasilnya secara umum berat badan anak-anak PAUD itu naik secara signifikan.
Respons on Emergency
Di tengah lonjakan pandemi Covid-19 Juli-Agustus 2021, bekerja sama dengan sebuah perusahaan obat Zipmex Indonesia, selama 10
hari FOI mengoperasikan Dapur Pangan berbasis Masyarakat dan memasok 2.600
paket makanan siap santap setiap harinya
bagi masyarakat yang terdampak. Paket makanan sehat itu diprioritaskan
bagi warga prasejahtera yang menjalani
isolasi mandiri di sekitar Jakarta.
Sebanyak 10 Dapur Pangan FOI (DPF) yang dioperasikan. Program
#Zipmex-Peduli terjun bergotong royong menyumbang perkakas dapur. Puluhan
relawan terjun membantu memasak, mengemas dan mendistribusikannya.“Makanan
sehat menjadi hal penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh di tengah pandemi
Covid-19. Semoga, melalui aksi ini, setiap orang bisa mendapatkan makanan sehat,’’
ujar Co-Founder Zipmex Indonesia, Raymond Sutanto dalam pers rilisnya.
Satu set peralatan dapur itu
diterima oleh PAUD Flamboyan, Kebayoran Lama,
yang menjadi salah satu titik layanan FOI. Kordinator PAUD Flamboyan, Septi, mengatakan
bahwa bantuan alat masak itu dapat berguna hingga masa pasca pandemi. Bila
pandemi mereda, kata Septi, PAUD Flamboyan bisa memanfaatkannya untuk program
pemberian makanan tambahan rutin untuk anak-anak, dan bila memungkinkan bisa
juga membantu korban banjir yang sering melanda Kebayoran Lama.
Respons on Emergency Disaster (RED) ialah salah satu program layanan FOI. Kegiatan
RED bersifat temporer, pada situasi kebencanaan. Ada pula Program Sayap dari Ibu (SADARI), yang
merupakan kegiatan Intervensi pangan dan gizi harian bagi anak usia 3 – 5
tahun, dengan harapan anak-anak bisa tumbuh sehat mempunyai sayap untuk terbang
di masa depannya.
Mentari Bangsaku merupakan program yang mencakup intervensi pangan dan
edukasi pada siswa PAUD dan SD. Seperti di PAUD Flamboyan, Kebayoran Lama,
Jakarta, misalnya, relawan FOI secara rutin menyajikan makanan bergizi untuk
bocah-bocah balita itu. Ada pula Dapur Pangan FOI, yakni program pemberian
pangan yang ditujukan kepada lansia dan fakir miskin. Berikutnya adalah Bank
Pangan Kita (Bangkit), yang merupakan kegiatan pendampingan dan pemberdayaan
bagi keluarga prasejahtera yang memiliki anak balita dengan status gizi buruk.
Di luar program reguler ini sering kali FOI menjalankan aksi tematik, seperti
terkait Hari Ibu 22 Desember, dengan aksi membagikan susu untuk masyarakat yang
memerlukan.
Donasi
Dalam menjalankan programnya Foodbank of Indonesia (FOI) bekerja sama
dengan banyak pihak, mulai dari instansi pemerintah, perusahaan swasta seperti industri obat, industri makanan, susu, bank, pasar swalayan, hotel,
restauran dan katering dan banyak lainnya. Untuk hotel, restoran dan katering,
makanan yang disumbangkan dipastikan bukan makanan sisa, melainkan kelebihan stok
yang belum keluar dari kemasan. ‘’Kami menyortirnya secara ketat dan yang kami
bagikan adalah makanan yang layak santap,’’ kata Wida Septarina.
Agar bisa dijadikan dalam keadaan hangat, relawan FOI memanasinya kembali
di atas kompor dan memastikan semuanya masih ddalam kondisi segar dan higenis.
Makanan itu kemudian dikemas ulang ke dalam nasi boks dan diantar ke alamat
para penerima manfaat.
Memanfaatkan makanan yang sudah
diproduksi dan diproses, namun tidak terserap, adalah salah satu misi
foodbank network itu. Maka, lembaga nirlaba ini didorong untuk hadir di
negara-negara yang praktek ekonominya sering terlalu memanjakan para kostumer
yang “lapar mata”, kemudian memproduksi
makanan melampaui jumlah yang bisa terserap lingkungan pasarnya.
Hotel, restoran, dan katering di Indonesia, sering “dipaksa” melakukan
pemborosan atas tuntutan kostumer. Katimbang terbuang mubazir, lembaga seperti
FOI itulah yang dapat memanfaatkannya. Indonesia tergolong negara yang boros
bersama negara-negara seperti Denark, Belanda, Kanada.
Untuk pasar swalayan atau minimarker, kadang mereka menghadapi kelebihan
stok. Maka, sebelum barang kadaluwarsa mereka menyumbangkan kelebihan stok itu lembaga
sosial seperti FOI. Dalam mengelola organisasinya, FOI bersikap terbuka, transparan,
dan terus menjaga akuntabilitasnya.
Laporan tahunan FOI dibuka untuk publik. Untuk kegiatan 2019 misalnya,
dalam laporan tahunnya FOI menyebut menerima donasi sekitar Rp. 8 Milyar. Yang
dalam bentuk barang berupa 6.733 kg produk industri makanan, 490 ton produk
makanan yang awet, 1.057 kg susu, 1.367 kg makanan beku, 2.325 kg buah dan
sayur, 489.670 kg barang kemasan eceran seperti biskuit, roto dan masih banyak
lainnya. Semuanya dibagi ke 30 titik layanan untuk sekitar 13.000 penerima
manfaat.
Sejauh ini tak ada komplain kepada layanan FOI. Para donatur mengakui dedikasi
Wida dan Hendro Utomo dalam menjalankan kendali Foodbank of Indonesia. Tak heran bila pasangan suami-isteri ini meraih
apresiasi dan penghargaan dari berbagai pihak. Antara lain, mereka mendapat
penghargaan dari BeritaSatu TV pada akhir 2020 lalu.
Wida dan Hendro termasuk dalam jajaran peraih penghargaan People and
Inspiration dari Televisi Berita Satu, Mereka meraih nilai tertinggi untuk
katagori Kepedulian Sosial.
Penulis : Indy Keningar
Komentar
Posting Komentar