Belajar Kerja Keras dan Latihan Mental dari Atlet PON Papua
Ajang olahraga bergengsi Pekan Olahraga Nasional XX (PON Papua) 2021 telah usai digelar dan
ditutup dengan meriah pada Jumat, 15 Oktober 2021 di di Stadion Lukas Enembe,
Jayapura. Kontingen Jawa Barat
dipastikan mempertahankan gelar juara umum pada PON XX Papua 2021 setelah berhasil mengoleksi
total 353 medali yang terdiri dari 133 emas, 105 perak, dan 115 perunggu. Kendati telah selesai,
tetapi euforia dan semangatnya masih terasa di benak masyarakat Indonesia.
Alasannya
yang pertama ialah Stadion Lukas
Enembe menjadi lokasi utama
penyelenggaraan edisi ini, baik upacara pembukaan maupun penutupan. Ajang ini
semula akan diadakan pada tahun 2020, tetapi ditunda ke tahun 2021 sehubungan
dengan Pandemi COVID-19. PON XX kali ini
menjadi yang pertama kalinya diselenggarakan di Papua sepanjang sejarah. Semua
mata tentu tertuju di provinsi yang berjuluk surge kecil di Indonesia ini.
Alasan
kedua ialah tentu saja semangat para atlet yang tak kenal menyerah untuk
mempersembahkan medali emas bagi asal daerahnya masing-masing. Usaha yang
mereka lakukana tentu saja tidak hanya sekali dua kali latihan, tetapi
berkali-kali, dengan spirit pantang menyerah, penuh daya juang, dan kerja
keras. Agaknya nilai-nilai tersebut yang bisa kita ambil dan praktikkan dari
perhelatan bergengsi tersebut.
Melansir
dari laman Kementerian Pemuda dan Olahraga, sebut saja ada nama pesebak bola
Ricky Ricardo yang menunjukkan aksi gemilang selama pertandingan. Ricky Ricardo
memang mencuri perhatian sepanjang PON XX. Tak hanya menyumbangkan medali emas
untuk tim Papua, pemilik nomor 10 di skuat asuhan Eduard Ivakdalam ini juga
menutup kiprahnya di PON Papua sebagai top skor.
Ricky
menjelaskan, persiapan panjang sudah dilakukan sejak lama oleh timnya. Mereka
juga telah melakoni pertandingan uji coba. Pertandingan uji coba itu disebutnya
sangat berarti dan menambah kerekatan dalam tim. Menurut Ricky, semua
pemain di tim Papua ini rendah hati dan saling mengasihi satu sama lain
Lantaran
prestasinya tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora
RI) Zainudin Amali terkesan dan meminta PSSI untuk memantau kapten tim sepak
bola putra PON Papua itu.
Menpora
Amali berharap, Ricky bisa menjadi salah satu pesepak bola yang bersinar
kedepannya. Oleh karenanya, diharap atlet tersebut bisa terus berlatih dan
mengasah kemampuannya. Pemantauan talenta ini memang sejalan dengan apa
yang diharapkan pemerintah. Menpora Amali menegaskan PON harus dijadikan ajang
untuk mencari atlet yang kedepan bisa diharapkan untuk mengisi pemusatan
latihan nasional (pelatnas).
Kemudian,
melansir laman kantor berita ANTARA ada nama atlet gulat putri tak kalah
bersinar yakni Varadisa Septi yang meraih medali emas dari nomor
gulat gaya bebas putri 76 kg di PON Papua setelah mengalahkan wakil Jambi,
Indri Sukmaningsih, dalam 30 detik di laga final,
Varadisa Septi mengalahkan Indri
dengan teknik jatuhan, ketika bantingan agresifnya membuat lawannya terjatuh
dan tak berkutik di atas matras di babak pertama. Pegulat kelahiran 2 September
2002 itu mengaku sempat gugup dan tegang mengikuti pesta olahraga empat tahunan
nasional untuk pertama kalinya.
Berbekal status juara Pra-PON
2019, perempuan asal Malang, Jawa Timur, itu berupaya menjaga momentum dan
kerja keras latihannya selama ini menjadi medali emas pertamanya di PON. Ia
mengatakan sudah melakukan latihan mati-matian untuk PON, jika sebelumnya di
pra-PON mendapatkan emas maka di PON ia tak boleh lengah dan haru menyabet emas
juga.
Lalu dari cabang olahraga Tenis,
ada sosok petenis Aldila Sutiadji berhasil menyabet medali emas tunggal
putri yang sekaligus memastikan Jawa Timur sebagai juara umum cabang olahraga
tenis.
Aldila menyudahi perlawanan wakil
tuan rumah Papua, Priska Madelyn Nugroho, dengan 6-4, 7-6 (10-7) dalam
pertandingan final. Sejak awal, Aldila
mengatakan sudah mempersiapkan mental untuk permainan yang panjang dan merasa senang
akhirnya bisa menyumbangkan emas untuk Jawa Timur.
Selain tenis dan gulat, altlet
catur putri juga tak kalah gemilang. Atlet catur putri Kalimantan Timur, WIM
Chelsie Monica Ignesias Sihite, berhasil meraih medali emas catur perongan
kilat putri.
Chelsie Monica berhasil
menyingkirkan dua rival terberatnya yakni pecatur peringkat pertama Indonesia
WGM Irene Kharisma Sukandar dari Jabar dan WCM Theodora Walukow dari DKI
Jakarta.
Pelatih Catur Kalimantan Timur
Yangdi Said mengatakan Chelsie sempat dikalahkan Irene di babak awal, namun
demikian Irene juga sempat kalah oleh Theodora, sehingga pada pertandingan yang
berlangsung selama sembilan babak tersebut tiga pecatur pada akhirnya memiliki
poin yang sama yakni 8 poin sehingga harus dilakukan babak play off untuk
menentukan pemenang.
Yangdi mengatakan pada babak play
off tersebut, Chelsie bisa bangkit dan akhirnya bisa membalas kekalahan atas
Irene kharisma Sukandar. Usai mengalahkan Irene yang juga dikenal sebagai
penakluk "Dewa Kipas" itu, motivasi Chelsie semakin bangkit dan
berhasil mengalahkan Theodora pada play off kedua.
Dua kemenangan di babak play off
mengukuhkan Chelsia sebagai juara nomor catur kilat putri dan berhak
mendapatkan medali emas, sementara Irene Sukandar (Jabar) meraih medali perak
dan Theodora (DKI) medali perunggu.
"Ini medali emas pertama
untuk tim catur Kaltim di ajang PON XX Papua, semoga hasil baik ini bisa
berlanjut pada laga berikutnya, dan membangkitkan semangat atlet Kaltim di
cabang yang lain," jelas Yangdi.
Yangdi menjelaskan pada nomor
perorangan putri ini ada tiga nomor yang dipertandingkan yakni catur cepat,
catur kilat dan catur standar, dan Chelsie akan turun tiga nomor tersebut.
Chelsie Monica memang diandalkan turun
di nomor perorangan putri, pesaing utamanya yakni Irene (Jabar) yang merupakan
rekan sesama pelatnas, kedua saling mengenal gaya permainan masing- masing dan
tinggal faktor mental yang menentukan pemenangnya.
Penulis : Ecka Paramita
Komentar
Posting Komentar